Idealita

Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
Yes 58: 6b


Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.  Mat 5:25 


Dalam kegiatan kerja sehari-hari, saya sering menemukan momen ketika harus berhadapan dengan pilihan antara melakukan yang benar dan yang happy. Yang benar tentu saja segala sesuatu tindakan yang dilakukan berdasarkan standar kelaziman baik moral, kemanusiaan, aturan, maupun hukum, dsb, yang secara ideal dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan yang happy adalah tindakan-tindakan yang di luar kelaziman, yang menorobos aturan, yang berorientasi jangka pendek, dan yang pasti tidak mengharapkan hal-hal yang ideal. 

Ayat pertama di atas bagi saya, adalah idealisme tertinggi yang mungkin akan saya anut seumur hidup. Bagi saya di dunia ini tidak perlu ada orang yang perlu menderita dengan alasan memberikan yang lain kenyamanan, sehingga tujuan akhir adalah tidak perlu ada yang menderita lagi, atau setidaknya tidak ada lagi kesenjangan antara yang senang dan yang menderita. 

Namun, dunia ini terasa sangat keras dan sulit untuk dibentuk menjadi tempat yang ideal seperti yang dicita-citakan pada ayat pertama. Tuhan Yesus sendiri bersabda agar kita senantiasa berdamai dengan lawan agar kita tidak diserahkan ke hakim. Saya melihat dua ayat tersebut bertolakbelakang jika dilihat dari tindakannya, namun bisa saja sejalan jika dilihat dari tujuan jangka panjang/pendeknya. 

Kedua ayat tersebut membuat saya merenungkan kondisi saya saat ini, di mana saya harus berhadapan dengan realita kehidupan sehari-hari. Bekerja siang hingga malam, kadang membuat saya lupa akan cita-cita ideal saya. Keinginan sementara untuk bertahan hidup, terkadang menutup keinginan luhur untuk mewujudkan dunia yang ideal. Saya bersyukur ada ayat pertama yang mengingatkan saya untuk tidak melupakan cita-cita yang bahkan terlihat mustahil sekalipun dalam hidup saya. Sementara ayat kedua mengingatkan saya untuk mempertimbangkan langkah demi langkah secara strategis dan cerdik. 


Doa

Ya Yesus, buatlah diriku menjadi pribadi yang mampu membayangkan idealisme setinggi langit, namun tetap mampu melangkah serendah mungkin di tanah. 


Amin. 


Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar