Membiasakan yang Benar
Sebab jika mereka mampu mengetahui sebanyak itu, sehingga dapat menyelidiki jagat raya, mengapa gerangan mereka tidak terlebih dahulu menemukan Penguasa kesemuanya itu?
Keb 13:9
Hidup ini terasa terlalu singkat jika manusia hanya melakukan dan memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermakna. Inilah yang saya tangkap dari bacaan hari ini, yang saya wakilkan dengan ayat di atas. Hal ini yang membuat kita tidak bisa menemukan Kerajaan Allah yang sebetulnya sudah ada di tengah-tengah manusia, seperti yang dikatakan Yesus sendiri pada Bacaan Injil kemarin.
Pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermakna, bagi saya adalah pekerjaan yang kita lakukan tanpa bisa kita refleksikan, yang kita biarkan berjalan begitu saja di setiap detiknya, dan yang tidak kita persembahkan bagi kemuliaan Tuhan.
Sebagai contoh, saya sendiri setiap hari bekerja, melakukan pelayanan, dan aktivitas lain yang mendukung. Ada kalanya saya semangat, ada kalanya tidak. Saya berpikir apa dan di mana yang salah, sehingga saya bisa tidak bersemangat dalam waktu-waktu tertentu.
Saya lalu menemukan bahwa, ternyata ketika saya tidak mampu merefleksikan apa yang saya lakukan secara rutin, saya menjadi gampang jenuh, bosan, dan cenderung akan segera menyerah ketika menghadapi masalah. Tetapi ketika saya tahu betul apa makna di balik aktivitas rutin dan tidak rutin saya, saya menjadi tahu kemana arah saya berjalan. Terutama jika saya mendapatkan petunjuk dari Tuhan, maka hati saya menjadi tenteram. Walaupun dalam kondisi sulit, saya menjadi percaya dan berserah diri, sehingga langkah saya ringan.
Pengalaman pribadi saya tentang hal ini, adalah ketika saya baru-baru ini berkesempatan menjadi dosen tidak tetap di salah suatu universitas. Lewat ajakan mantan dosen yang kebetulan menjadi pejabat di kampus tersebut, tepatnya 3 bulan yang lalu saya mulai mengajar. Untuk pertama kali dalam hidup, saya mengampu sendiri dua mata kuliah yang dipercayakan fakultas.
Mengajar sebagai dosen bisa dikatakan angan-angan saya sejak lulus kuliah 7 tahun yang lalu. Walaupun sering diberi kesempatan untuk menjadi asisten dosen, namun baru kali ini saya berkesempatan mengampu langsung.
Namun yang lebih melegakan adalah saya bisa tetap bekerja di kantor saat ini. Walaupun atasan saya menyebalkan, tapi Puji Tuhan saya diberi lampu hijau untuk mengajar 😃.
Waktu kerja menjadi semakin padat, bahkan waktu libur digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas, menulis paper, dan menyiapkan bahan ajar. Sampai di satu titik saya merasa bosan yang tidak karuan karena banyak sekali tuntutan dari atasan yang merasa saya harus lembur menggantikan waktu yang diberikan untuk mengajar. Saya menjadi kurang tidur dan lelah. Sempat ada waktu di mana saya ingin menyerah.
Tapi pada bacaan hari ini, saya disadarkan betapa saya harus bida merefleksikan semua kegiatan yang saya lakukan setiap hari. Karena jika tidak, saya tidak akan dapat menemukan sang _Penguasa_ yang memberikan saya kehidupan. Saya akan terjebak pada detail; memusingkan capeknya daripada manfaatnya; mempermasalahkan kekesalan ketimbang rasa syukur; dan menyesalkan hilangnya waktu istirahat ketimbang menjadi produktif.
Memang benar bacaan hari ini, bahwa banyak yang bisa menilai alam semesta, namun tidak bisa menemukan Penguasa yang menciptakannya.
Banyak yang larut dalam rutinitas, tapi tidak banyak yang bisa merefleksikannya.
Banyak orang membenarkan yang biasa, tetapi sedikit orang membiasakan yang benar.
Lewat kesibukan saya sehari-hari, saya dapat menemukan garis benang merah, yang dalam Yesus Kristus diberikan rahmat berkat pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi permasalahan.
Doa
Ya Allah Bapa, berikanlah petunjuk senantiasa kepada anak-Mu ini agar dapat memahami panggilan-Mu melalui setiap kejadian kecil sampai kejadian yang besar yang dapat aku resapkan dalam hati dan pikiran, agar aku senantiasa dapat memahami jalanku menuju kepada-Mu.
Amin
Antonius Semmy Tyar Armandha
Komentar
Posting Komentar