Menilai Zaman, Menilai Sistem
Renungan bacaan 25
Oktober 2019
Antonius Semmy Tyar
Armandha
Hai orang-orang
munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat
menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang
benar?
(Luk 12:56-57)
Jadi jika aku berbuat
apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi
dosa yang diam dalam aku
(Rm 7:20)
Renungan saya hari ini cukup
panjang, namun sama sekali bukan untuk memberikan suatu analisis yang mengarah
pada pengajaran. Tidak. Saya membuat renungan ini berdasarkan pada apa yang
saya rasakan menjadi sarana bagi Allah untuk menyapa saya secara pribadi.
Adapun panjangnya renungan ini karena bacaan hari ini sangat mengena bagi saya
karena terkait dengan apa yang saya amati dan saya rasakan belakangan ini.
Bagi saya, kedua ayat emas yang
saya pilih dari bacaan hari ini mau mengatakan bahwa dosa yang ada pada diri
kita bukanlah datang dari bagian terdalam dari diri kita, melainkan dari
hal-hal yang di luar diri kita yang gagal kita nilai sendiri. Hal-hal di luar
diri kita tersebut menghalangi kita untuk melihat secara jernih dan menilai
perubahan-perubahan yang harus kita sikapi, terutama perubahan zaman yang Yesus
sendiri nyatakan. Alhasil, kita tidak dapat memutuskan sendiri apa yang benar.
Kita akhirnya akan berujung pada dua hal: jika tidak tertinggal pada perubahan
zaman; ya kita akan terseret dan tenggelam dibawa oleh arus perubahan zaman. Kita
dapat menilai perubahan hal-hal yang fisik, tubuh kita sebagai contohnya. Tapi
kita sangat sulit menilai perubahan hati kita, persis seperti yang dikatakan
Paulus.
Untuk mengatakan bahwa dosa
bukanlah kehendak kita, adalah mengatakan pula bahwa dosa menjadi bagian dari
kedagingan. Tubuh fisik kita lebih menginginkan dosa, sedangkan hati akan lebih
menginginkan Allah dan kekudusan yang menyertainya. Oleh karenanya, segala dosa
yang sekiranya kita lihat dalam diri orang lain sesungguhya bukan dia yang
melakukannya, melainkan kedagingannya.
Hal ini yang saya lihat dari hidup
berkomunitas dari orang-orang yang memberikan dirinya untuk menjadi pelayan
Tuhan. Bagi saya, definisi ‘pelayan Tuhan’ tidak dapat sama sekali dipersempit
hanya dalam lingkup Gereja, namun bisa sangat luas. Bagi saya, melayani Tuhan
adalah upaya untuk keluar dari kenyamanan diri sendri untuk berkorban bagi
kemaslahatan masyarakat/orang lain. Dan menjadi pelayan pula bagi masyarakat
lain di luar Gereja dan mahkluk lain serta lingkungan hidup. Saya melihat
kehidupan orang-orang yang melayani Tuhan, penuh dengan dinamika: kadang
selaras, kadang kontradiktif, kadang penuh sukacita, kadang penuh dukalara.
Namun yang paling jelas, adalah dinamika relasi yang tercipta dalam suatu
komunitas. Relasi antara anggota, relasi antara pengurus dan relasi dengan sistem
yang melandasi jalannya komunitas tersebut. Dapat dikatakan, sistem menentukan
berjalannya komunitas tersebut, dan relasi di dalamnya baik yang kooperatif maupun
konfiktual dapat terjadi dalam pengaruh bagian tertentu dari sistem.
Berdasarkan kedua ayat tersebut
di atas, saya memandang bahwa sebuah sistem dalam suatu komunitas dapat sangat
mempengaruhi gerak-gerik individu secara fisik (tubuh dan pikiran), tapi tidak
hatinya. Namun demikian dosa tetaplah akan disebabkan dari keputusan yang kita
buat secara sadar dan secara fisik, karena notabene kita masih hidup dalam raga
jasmani. Walaupun hati kita menginginkan Tuhan, tetapi jika keinginan daging
mengendalikan keputusan kita, maka tetap kita akan jatuh ke dalam dosa.
Demikian pula dalam suatu komunitas, hati saya menginginkan Tuhan untuk datang
dalam hidup saya melalui pelayanan yang saya lakukan. Namun, apa yang saya
lakukan dengan tubuh saya, sepenuhnya bergantung pada sistem yang diberlakukan
dalam komunitas tersebut, karena sistem di dunia hanya bisa mengatur apa yang
fisik, bukan yang rohani. Tapi kembali lagi, aturan fisik dapat membawa kita
mengambil keputusan yang lebih dekat dengan hati; dan sebaliknya, dapat
menjerumuskan kita ke jurang dalam yang jauh sama sekali dari hati.
Dalam hal ini, bagi saya bacaan
hari ini sangat relevan. Bagi saya Yesus tidak serta merta menghakimi
orang-orang dalam bacaan tersebut munafik, melainkan menghakimi ketidakmampuan
mereka dalam melihat tanda zaman (yakni tanda yang dibawa oleh kedatangan Kristus).
Ketidakmampuan tersebut adalah yang membawa mereka jatuh ke dalam dosa
kemunafikan tersebut. Demikian pula dalam berkomunitas, bukan pribadi orang
individu-per individu lah yang membuat suatu komunitas tidak mampu melihat
tanda zaman, melainkan sistem yang diterapkan oleh komunitas tersebutlah
menjadi seperti “rel” usang yang semestinya tidak dilalui lagi oleh “kereta”
organisasi. Lebih parah lagi, “kereta” organisasi sudah berjalan di luar “rel”
usang tersebut, tapi sang masinis dan awak masih “berpura-pura” menganggap “rel”
tersebut masih bagus dan layak. Bentuk kemunafikan sistemik inilah yang harus
dibuang jauh-jauh. Jika “rel” sudah usang/jika sistem sudah tidak mampu
menghadapi perkembangan organisasi dihadapkan pada perubahan zaman, maka
sebaiknya “rel” tersebut ditinggalkan dan organisasi membangun “rel” yang baru.
Jika tidak, maka organisasi pelayanan tersebut hanya akan berpura-pura saja
sampai hari penghakiman nanti. Hari dimana kita tidak tahu kapan itu terjadi,
bisa besok, bisa sedetik lagi.
Sekali lagi, perenungan ini bukan
untuk memberikan pengajaran kepada siapapun. Meski saya tidak menyebut secara
spesifik komunitas apa yang saya amati, namun dapat saya pastikan bahwa renungan
ini berdasarkan pengamatan terhadap fenomena yang nyata dan dapat saya rasakan
langsung.
Doa
Ya Allah, hatiku menginginkan-Mu selalu, tetapi kedagingan seringkali
menghalangiku dengan segala hasratnya yang datang dari godaan-godaan dari luar.
Semoga Roh Kudus tidak hanya tinggal senantiasa dalam hatiku, melainkan juga
mengambil kendali arah kehidupanku. Ya Yesus, semoga Engkau sebagai tanda zaman
yang utama, dapat kami pahami dan resapkan dalam kehidupan komunitas dan
pelayanan kami tidak hanya di dalam namun juga di luar Gereja dan lingkungan.
Amin.
Komentar
Posting Komentar