CREATIO EX DEO



dan ia berkata kepada Yerobeam: "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku.

1Raj 11:31

Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Mrk 7:37

Bacaan hari ini mengingatkan saya kepada kisah penciptaan yang tertulis di Kitab Kejadian. Ada banyak perspektif yang memandang kisah penciptaan ini. Ada yang mengatakan Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Pandangan ini mengatakan bahwa Tuhan tidak menggunaan sumber daya apapun untuk menciptakan dunia, sehingga hanya kekuatan-Nya lah yang mampu menciptakan segala hal. Di sisi lain, ada yang mengatakan creatio ex nihilo nihil fit, yang artinya tidak ada sesuatu yang diciptakan dari ketiadaan. Keduanya bagi saya kurang berhasil menjelaskan mengapa misalnya, ada teori big bang yang saat ini diakui oleh Paus Fransiskus. Teori Big Bang tidak mengatakan dari ketiadaan, tapi juga tidak mengatakan diciptakan dari sesuatu. 

Saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai perdebatan kosmologis ini, melainkan hanya ingin memberikan sedikit latar belakang pemilihan ayat emas dari kedua bacaan yang menurut saya sangat terkait. Dari kedua ayat emas di atas, tergambar dua kondisi yang berbeda: yang satu tentang perpecahan, chaos, turbulensi dan konfliktual; sementara yang lain menggambarkan keberaturan, kebaikan, stabilitas dan perdamaian. Namun dua kondisi tersebut terkait sekali dengan adanya proses pemulihan, proses penyembuhan, proses pendamaian, dan yang paling penting adalah proses kreasi

Beberapa tahun ini, tepatnya 3-4 tahun belakangan, saya mengalami naik turun kehidupan yang saya yakin adalah proses kreasi pribadi saya menjadi yang lebih baru. Banyak sekali cerita yang bisa saya ceritakan, namun saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika saya berada pada kondisi di "bawah", kesedihan dan kesesakan itu sebetulnya muncul manakala saya tidak bisa melihat ke depan. Saya sangat sedih, bahkan dari persoalan remeh-temeh. Saya sedih karena suatu masalah, ditambah lagi saya sedih karena menyadari masalah itu sungguh remeh, sehingga saya tambah menghakimi diri saya sendiri yang tidak mampu mengatasi kesedihan tersebut. Lalu saya berdoa minta Tuhan mengubah situasi dan kondisi menjadi lebih nyaman. Bahkan saya berdoa novena untuk mengubah jalan cerita hidup saya menjadi yang lebih enak dan nyaman. 

Namun saya salah. Meminta Tuhan untuk mengubah keadaan sama saja dengan Petrus yang pernah menentang rencana Allah untuk menebus umat-Nya melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Saya kemudian sadar, bahwa bukan keadaannya yang harus diubah, tapi hati dan diri kita yang harus dibenahi. Kegagalan hati dan pikiran dalam melihat potensi pembaharuan dalam diri saya melalui berbagai permasalahan dan "hajaran" Tuhan, seringkali yang justru membuat saya down. Saya mengubah doa saya, menjadi permohonan dengan tulus agar Tuhan senantiasa tinggal dalam hati dan pikiran saya, agar saya kuat menghadapi setiap persoalan. 

Setiap persoalan akan membantu saya untuk mengubah bahkan mentransformasi pribadi saya menjadi yang lebih baik. Oleh karenanya, bagi saya istilah Creatio ex Deo adalah jauh lebih tepat. Creatio ex Deo melihat bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatunya dengan diri-Nya sendiri sebagai sumbernya. Ia menciptakan segala sesuatu dari material-material yang ada dalam bagian diri-Nya, dan Ia menggunakan material terbaik yaitu cinta kasih. Sebagaimana Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisa dijadikan-Nya berkata-kata, sebagaimana saya mengimani Ia yang adalah sumber penciptaan dari cinta kasih. 

DOA

Ya Allah, pada hari ini Engkau telah menunjukkan bahwa Engkau lah sumber cinta kasih. Engkau menjadikan segala-galanya baik lewat Putera-Mu Tuhan kami Yesus Kristus. Ciptakanlah senantiasa cinta kasih dalam diri kami umat-Mu, sehingga kami menjadi baru setiap saat dan kami mampu mengubah kesengsaraan menjadi kekuatan untuk meneruskan cinta kasih-Mu kepada saudara-saudari kami dan alam ciptaan-Mu.

Amin.

Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem