Melampaui Iman Berbasis Harapan
Apabila mereka menganiaya kalian di suatu kota, larilah ke kota yang lain. Aku berkata kepadamu, Sungguh, sebelum kalian selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang."
Mat 10:23
Hari ini saya akan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap renungan yang saya buat selama satu bulan ke belakang. Dalam satu bulan ke belakang ini saya sudah membuat setidaknya empat renungan sebagai refleksi atas kehidupan saya tepat sebulan ke belakang ini.
Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, saya dapat menyebut renungan saya dalam satu bulan sebagai: "melampaui iman berbasis harapan". Selama satu bulan ini saya mencoba untuk merenungkan kondisi saya yang saat ini minim harapan, terbatas di sana-sini dan rasanya agak sulit membayangkan masa depan yang cerah. Saya sendiri belum punya pekerjaan tetap dan rasanya sulit untuk membayangkan mendapatkan pekerjaan tetap tersebut, melihat pada "ketidakmampuan" saya untuk bertahan pada lingkungan kerja korporat yang eksploitatif. Bahkan saya pernah langsung left grup sebuah komunitas pelayanan, karena ada satu orang yang berusaha menggunakan logika korporatnya untuk melayani. Saya tentu menyesali tindakan left grup whatsapp ini, namun saya tetap memiliki pendirian bahwa sebuah pelayanan tidak seharusnya dibawa dalam situasi yang korporatoris kapitalis yang ujungnya keuntungan dan hasrat narsistik si pelayan itu saja. Yang saya sesali adalah sikap emosional saya yang tidak elegan. Dari penyesalan tersebut, saya menyadari bahwa saya tidak akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan karena ketidaksukaan saya yang tidak bisa tidak saya tunjukan tersebut. Padahal dunia bisnis, dunia pekerjaan selalu menuntut kemampuan untuk menarik perhatian, dan kemampuan untuk bisa bergaul membangun networking, dsb. Di sisi lain, saya juga minim harapan akan keberlanjutan pendidikan tinggi yang sangat saya inginkan. Saya tidak bisa melihat masa depan kelanjutan pendidikan tinggi saya karena minimnya biaya dan waktu.
Namun demikian, dari seluruh ayat yang saya kutip selama sebulan ini, saya melihat bahwa perlu adanya iman yang tidak berbasis pada harapan. Sebisa mungkin buang semua harapan yang ada jauh-jauh. Seperti yang pernah saya kutip, kisah Bunda Theresa menjadi salah satu contoh konkrit yang menjadi dasar pijakan saya untuk beriman, di mana Bunda Theresa masih mampu beriman bahkan ketika tidak merasakan kehadiran Allah (desolasi) selama bertahun-tahun. Justru ketika adanya pengakuan bahwa saya sedang dalam kondisi tidak ada harapan lagi tapi masih berani beriman kepada-Nya, saat itulah saya betul-betul dapat beriman yang sesungguhnya. Pada saat saya tidak mampu lagi melihat ke depan, namun saya tetap berjalan selangkah demi selangkah, di situlah iman terbesar dibutuhkan. Bahkan mungkin saya harus mengakui bahwa Tuhan tidak beserta saya.
Tuhan tidak beserta saya. Kalimat ini-lah yang menjadi permenungan selanjutnya. Tatkala melihat komunitas yang penuh pertengkaran dengan sabda Allah sebagai dalilnya. Saya melihat, ketika ada orang yang mengklaim bahwa Tuhan beserta dia, dengan mudahnya kebenaran diklaim. Ada sebuah lelucon dari Jacques Derrida yang menceritakan "kesombongan dibalik kerendahan hati". Ketika itu ada dua orang Yahudi sedang berdoa di sinagoga. Ia berkata "Ya Tuhan, saya bukanlah siapa-siapa, ampunilah saya". Ternyata yang berdoa tersebut adalah seorang saudagar kaya raya. Di sebelahnya ada lagi seorang ahli Taurat yang berdoa dengan berkata "Ya Tuhan, saya memohon kepada-Mu karena saya tidak lain hanyalah hamba yang tidak berharga". Lalu datanglah seorang pengemis yang berkata juga demikian dengan penuh kerendahan hati dan memohon kepada Allah. Respon dua orang sebelumnya sangat menarik: "memangnya siapa dia sok-sok merendahkan diri?" Bagi saya lelucon ini sangat bermakna, karena menggambarkan persis bagaimana manusia memonopoli Allah dengan status dan kekayaannya. Bahkan mereka memonopoli kerendahan hati, dengan merendahkan orang yang dianggap "tidak cukup mampu" untuk merendah-hati. Di sini saya melihat betapa sulit untuk menjadi rendah hati. Dan dari berbagai bacaan yang saya kutip sebulan ini, dengan mengaku bahwa "Tuhan tidak beserta saya", mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk menunjukkan kerendahan hati yang sesungguhnya. Dengan tidak memonopoli Tuhan atas nama diri kita sendiri.
Namun, kekurangannya, tetap bagi saya adalah betapa masih emosionalnya sikap saya saat ini yang tidak menunjukkan kedewasaan. Saya masih bertindak secara refleksif dan reaksionis.
Mungkin inilah yang dapat saya evaluasi sekaligus refleksikan terhadap permenungan saya selama satu bulan di Komunitas Verbum Domini 4. Selama satu bulan ini, saya selalu berusaha untuk merefleksikan apapun yang saya paling soroti selama satu minggu, sehingga saya bisa mendapatkan gambaran mengenai diri saya sendiri. Bagi saya, menulis renungan di KVD bagaikan menulis diary kehidupan saya bersama Tuhan sendiri, tanpa harus mendikte tafsir terhadap sabda-Nya. Hal ini yang membuat saya selalu berusaha untuk menulis renungan pada hari di mana saya bertugas, karena jika sudah disiapkan pada hari-hari sebelumnya, saya akan melewatkan permenungan selama seminggu ini. Hal ini juga yang membuat saya tidak akan sharing jika memang tidak ada inspirasi yang datang sebagai permenungan. Saya tidak akan memaksakan, jika memang tidak perenungan yang saya dapatkan setiap tugas. Seperti yang ditulis pada ayat kutipan di atas, Yesus memerintahkan kita untuk lari ke kota lain, sementara Ia mengejar kita sebelum pelarian kita selesai.
Mat 10:23
Hari ini saya akan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap renungan yang saya buat selama satu bulan ke belakang. Dalam satu bulan ke belakang ini saya sudah membuat setidaknya empat renungan sebagai refleksi atas kehidupan saya tepat sebulan ke belakang ini.
Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, saya dapat menyebut renungan saya dalam satu bulan sebagai: "melampaui iman berbasis harapan". Selama satu bulan ini saya mencoba untuk merenungkan kondisi saya yang saat ini minim harapan, terbatas di sana-sini dan rasanya agak sulit membayangkan masa depan yang cerah. Saya sendiri belum punya pekerjaan tetap dan rasanya sulit untuk membayangkan mendapatkan pekerjaan tetap tersebut, melihat pada "ketidakmampuan" saya untuk bertahan pada lingkungan kerja korporat yang eksploitatif. Bahkan saya pernah langsung left grup sebuah komunitas pelayanan, karena ada satu orang yang berusaha menggunakan logika korporatnya untuk melayani. Saya tentu menyesali tindakan left grup whatsapp ini, namun saya tetap memiliki pendirian bahwa sebuah pelayanan tidak seharusnya dibawa dalam situasi yang korporatoris kapitalis yang ujungnya keuntungan dan hasrat narsistik si pelayan itu saja. Yang saya sesali adalah sikap emosional saya yang tidak elegan. Dari penyesalan tersebut, saya menyadari bahwa saya tidak akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan karena ketidaksukaan saya yang tidak bisa tidak saya tunjukan tersebut. Padahal dunia bisnis, dunia pekerjaan selalu menuntut kemampuan untuk menarik perhatian, dan kemampuan untuk bisa bergaul membangun networking, dsb. Di sisi lain, saya juga minim harapan akan keberlanjutan pendidikan tinggi yang sangat saya inginkan. Saya tidak bisa melihat masa depan kelanjutan pendidikan tinggi saya karena minimnya biaya dan waktu.
Namun demikian, dari seluruh ayat yang saya kutip selama sebulan ini, saya melihat bahwa perlu adanya iman yang tidak berbasis pada harapan. Sebisa mungkin buang semua harapan yang ada jauh-jauh. Seperti yang pernah saya kutip, kisah Bunda Theresa menjadi salah satu contoh konkrit yang menjadi dasar pijakan saya untuk beriman, di mana Bunda Theresa masih mampu beriman bahkan ketika tidak merasakan kehadiran Allah (desolasi) selama bertahun-tahun. Justru ketika adanya pengakuan bahwa saya sedang dalam kondisi tidak ada harapan lagi tapi masih berani beriman kepada-Nya, saat itulah saya betul-betul dapat beriman yang sesungguhnya. Pada saat saya tidak mampu lagi melihat ke depan, namun saya tetap berjalan selangkah demi selangkah, di situlah iman terbesar dibutuhkan. Bahkan mungkin saya harus mengakui bahwa Tuhan tidak beserta saya.
Tuhan tidak beserta saya. Kalimat ini-lah yang menjadi permenungan selanjutnya. Tatkala melihat komunitas yang penuh pertengkaran dengan sabda Allah sebagai dalilnya. Saya melihat, ketika ada orang yang mengklaim bahwa Tuhan beserta dia, dengan mudahnya kebenaran diklaim. Ada sebuah lelucon dari Jacques Derrida yang menceritakan "kesombongan dibalik kerendahan hati". Ketika itu ada dua orang Yahudi sedang berdoa di sinagoga. Ia berkata "Ya Tuhan, saya bukanlah siapa-siapa, ampunilah saya". Ternyata yang berdoa tersebut adalah seorang saudagar kaya raya. Di sebelahnya ada lagi seorang ahli Taurat yang berdoa dengan berkata "Ya Tuhan, saya memohon kepada-Mu karena saya tidak lain hanyalah hamba yang tidak berharga". Lalu datanglah seorang pengemis yang berkata juga demikian dengan penuh kerendahan hati dan memohon kepada Allah. Respon dua orang sebelumnya sangat menarik: "memangnya siapa dia sok-sok merendahkan diri?" Bagi saya lelucon ini sangat bermakna, karena menggambarkan persis bagaimana manusia memonopoli Allah dengan status dan kekayaannya. Bahkan mereka memonopoli kerendahan hati, dengan merendahkan orang yang dianggap "tidak cukup mampu" untuk merendah-hati. Di sini saya melihat betapa sulit untuk menjadi rendah hati. Dan dari berbagai bacaan yang saya kutip sebulan ini, dengan mengaku bahwa "Tuhan tidak beserta saya", mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk menunjukkan kerendahan hati yang sesungguhnya. Dengan tidak memonopoli Tuhan atas nama diri kita sendiri.
Namun, kekurangannya, tetap bagi saya adalah betapa masih emosionalnya sikap saya saat ini yang tidak menunjukkan kedewasaan. Saya masih bertindak secara refleksif dan reaksionis.
Mungkin inilah yang dapat saya evaluasi sekaligus refleksikan terhadap permenungan saya selama satu bulan di Komunitas Verbum Domini 4. Selama satu bulan ini, saya selalu berusaha untuk merefleksikan apapun yang saya paling soroti selama satu minggu, sehingga saya bisa mendapatkan gambaran mengenai diri saya sendiri. Bagi saya, menulis renungan di KVD bagaikan menulis diary kehidupan saya bersama Tuhan sendiri, tanpa harus mendikte tafsir terhadap sabda-Nya. Hal ini yang membuat saya selalu berusaha untuk menulis renungan pada hari di mana saya bertugas, karena jika sudah disiapkan pada hari-hari sebelumnya, saya akan melewatkan permenungan selama seminggu ini. Hal ini juga yang membuat saya tidak akan sharing jika memang tidak ada inspirasi yang datang sebagai permenungan. Saya tidak akan memaksakan, jika memang tidak perenungan yang saya dapatkan setiap tugas. Seperti yang ditulis pada ayat kutipan di atas, Yesus memerintahkan kita untuk lari ke kota lain, sementara Ia mengejar kita sebelum pelarian kita selesai.
Komentar
Posting Komentar