Melihat Martabat Kerja dalam Diri Yesus Kristus yang dianiaya

"Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 

Kis 9:5

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

Yoh 6:54

Selamat hari buruh sedunia! 

Hari ini, selain kita semua memasuki bulan Maria, kita juga memperingati hari buruh internasional.

Bagi saya, ayat hari ini mengingatkan bahwa hidup sehari-hari manusia seringkali dianggap sebagai rutinitas semata yang membosankan dan menjemukan bahkan membuat frustasi, padahal Tuhan memberikan salah satu anugerah terbesarnya dalam keseharian tersebut, yaitu kerja yang bermartabat

Bapa Suci Yohanes Paulus II pada tahun 1981 menulis ensiklik Laborem Exercens untuk memperingati 90 tahun ensiklik Ajaran Sosial Gereja pertama Rerum Novarum_ yang ditulis oleh Paus Leo XIII.   Dalam kedua ensiklik ini, kedua Bapa Suci merenungkan kaum buruh sebagai kaum yang banyak tertindas karena sistem ekonomi yang tidak adil. Meskipun tidak setuju sosialisme, namun Paus Leo XIII menyetujui adanya perjuangan buruh melalui   Serikat Buruh. Di sisi lain, Paus Yohanes Paulus II lebih dalam membahas makna kerja itu sendiri yang semestinya lepas dari eksploitasi baik yang bersifat materialisme maupun ekonomisme. Adalah kerja dengan harga diri dan martabatnya (dignity)lah, manusia dapat menjadi manusia. Oleh karenanya dibedakan antara kerja bermartabat yang bermakna bebas dari eksploitasi, dengan kerja keras (toil) yang berarti penghukuman Allah terhadap Adam karena telah melanggar perintah-Nya di Taman Eden. (Kej 3:19)

Dari konteks ini, saya kemudian melihat pada diri saya sendiri, betapa saya seperti Saulus yang membunuhi pengikut Yesus Kristus. Saya membunuh makna kerja yang bermartabat dan menggantinya dengan kerja keras ala hukuman Adam dalam hidup saya. Sadar dan tidak sadar, saya membunuhi harga diri dalam bekerja. Bapa Suci telah menekankan pentingnya Serikat Buruh, namun bukan serikatnya yang paling penting, melainkan kolektivitasnya. Saya merasa belum dapat membaktikan pekerjaan saya untuk komunitas di sekitar rumah saya, ataupun komunitas di gereja saya, atau komunitas bangsa.

Dengan berkeluh kesah dalam pekerjaan, saya juga membunuhi harga diri kerja dengan tidak menyusun rencana kerja jangka panjang, yang termasuk di dalamnya, kontribusi kepada masyarakat. Alhasil, saya menjadi malas-malasan, tidak termotivasi, selalu cari untung, cari aman, bahkan tak menepati janji. Hal ini karena harga diri kerja yang rendah, sehingga semangat hanya setengah2 dan cenderung kelelahan di tengah jalan. 

Yesus Kristus telah menumpahkan Darah-Nya dan memberikan Tubuh-Nya untuk manusia santap. Oleh karenanya, kerja haruslah selalu dibahanbakari dengan Tubuh dan darah-Nya agar kerja dapat bermartabat dan berhargadiri tinggi dan lepas dari eksploitasi.

Doa

Ya Allah Bapa, aku menyadari bahwa selama ini aku tidak menghargai makna kerja dalam hidupku dengan bermalas-malasan dan tidak mau berkontribusi pada kolektivitas. Bantulah aku ya Yesus Kristus untuk segera berhenti membunuh waktu, membunuh kerja bermartabat, yang secara tidak langsung seperti Saulus membunuh diri-Mu dalam diri pengikut-pengikut-Mu. Semoga di hari buruh dan dengan masuknya bulan Maria, banyak pihak semakin menyadari pentingnya membangun kolektivitas bagi orang-orang yang miskin walaupun sudah bekerja, sehingga makna kerja yang bermartabat semakin dapat kami praktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Amin.

Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem