Kenal ≠ Percaya

 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Mat 13:38


Dalam kehidupan sehari-hari, saya cenderung "meremehkan" hal-hal yang sudah saya anggap saya kenal dan paham sudah lama. Misalnya, ketika mengendarai sepedah motor, saya cenderung tidak memerhatikan hal-hal kecil seperti bagaimana berbelok yang benar tanpa mengakibatkan kendaraan lain kaget. Karena saya merasa sudah mahir berkendara sepedah motor, saya merasa tidak perlu memerhatikan lagi hal-hal yang sesungguhnya krusial dan esensial dalam berkendara sepedah motor tersebut. 

Contoh yang lebih kompleks, adalah hubungan dengan orang dekat seperti orang tua, saudara dan teman dekat. Saya akan cenderung santai jika berinteraksi dengan ibu saya misalnya dibanding dengan atasan saya di tempat kerja. Namun, justru saya akan lebih banyak memerhatikan hal-hal kecil tapi penting ketika berinteraksi dengan atasan saya, ketimbang dengan ibu saya. Saya akan memandang komunikasi dengan ibu saya, yang sudah saya kenal dari lahir, sebagai sesuatu yang sudah dari sananya begitu, sehingga tidak dibutuhkan penelaahan lagi tentang apakah komunikasi berjalan lancar atau terhambat. Di sisi lain, saya lebih berhati-hati bicara dengan atasan, karena merasa perlu mengenal lebih lanjut orang yang baru dikenal tersebut. 


Ayat hari ini mengingatkan kepada saya, bahwa mujizat atau keberhasilan seringkali tidak terwujud hanya karena tidak cukupnya perhatian terhadap hal tersebut karena merasa "sudah bisa" atau "sudah paham" dan menganggap "sudah dari sananya begitu". Berapa banyak konflik yang terjadi justru lebih keras pada orang yang dekat ketimbang yang baru kenal? Belakangan ini, berapa banyak orang tua yang menyakiti anaknya dan berapa banyak anak yang (maaf) dengan teganya membunuh atau mengabaikan orang tuanya? 


Dikaitkan dengan keberadaan Yesus di hati dan kehidupan kita, mungkin saja kita merasa karena sudah Katolik lantas memandang remeh Yesus dan melupakan-Nya dalam setiap kegiatan kita. 


Doa

Ya Yesus, sebagai anak, saya seringkali meremehkan-Mu dengan menganggap mujizat dari-Mu adalah keniscayaan dalam hidupku. Padahal diriku pula harus berjuang untuk menggapai mujizat-Mu tersebut. Bahkan mungkin orang yang tidak beriman kepada-Mu mungkin lebih banyak yang mengalami mujizat-Mu ketimbang diriku yang sudah jelas pengikut-Mu karena tidak mengikuti jalan-Mu. Semoga dalam kehidupan ini, diriku senantiasa memerhatikan setiap hal-hal kecil dan penting, sehingga kelak mujizat-Mu mengalir dalam hidupku. Amin


Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem