Anak-anak Allah, Mendamaikan Dahulu dan yang Sekarang
Jumat, 1 November
2019
Berbahagialah orang
yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Mat 5:9
Saudara-saudaraku yang
kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan
kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya,
kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam
keadaan-Nya yang sebenarnya. 1Yoh 3:2
Selama satu minggu ini saya mengalami beberapa pergulatan
batin yang saya alami dalam suatu komunitas pelayanan. Saya merasa cukup jenuh
berada di komunitas pelayanan ini. Kemudian, saya bertanya-tanya pada diri saya
sendiri, mengapa saya begitu jenuh, dan saya membuat beberapa dugaan. Dugaan pertama, karena pelayanan ini begitu
rutin dan mengurangi waktu tidur saya, sehingga saya cukup kelelahan. Dugaan kedua, karena komunitas yang menaungi
pelayanan tersebut tidak mengemas pertemuan rutin yang memberikan penguatan
yang cukup secara rohani bagi saya, sehingga saya merasakan tidak mendapatkan
apa-apa. Dugaan ketiga adalah saya
memang tidak cocok dengan jenis karya pelayanan ini yang tidak selaras dengan
bakat saya. Dari tiga dugaan tersebut, sampai sekarang saya masih mencoba untuk
discernment, bertanya pada Tuhan
apakah saya memang harus melayani-Nya di sini atau di tempat lain.
Ternyata saya tidak sendiri. Beberapa teman, terutama yang
satu angkatan, juga merasakan kekeringan rohani dan kejenuhan. Lantas kami
sering berdiskusi di sela-sela waktu pelayanan, apa yang jadi keluhan dan apa
yang harusnya komunitas lakukan untuk “menghidupkan” suasana di dalam pelayanan
agar tidak menjenuhkan. Hari demi hari, pandangan kami semakin mengerucut pada
beberapa pokok permasalahan yang menurut kami secara kronis diderita oleh
komunitas kami ini dalam melayani. Kami memandang bahwa orang-orang yang
mengurus dan menjadi anggota (terutama yang senior), terlalu konservatif
terhadap sistem, tata cara, dan mekanisme yang diatur semenjak pertama kali komunitas
ini berdiri. Alhasil, selain adanya hawa senioritas yang tinggi di komunitas,
juga terjadi kemandekan dalam roda berjalannya organisasi (seperti mandeknya
rekrutmen, tidak hidupnya komunitas, hingga sedikitnya jumlah orang yang
dilayani).
Aspirasi kami tersebut kemudian mulai didengar oleh para
koordinator dan pengurus. Tanggapannya beragam, namun mengisyaratkan keengganan
untuk mengubah secara mendasar sistem dalam organisasi. Kami menduga bahwa
pengaruh orang-orang lama pendiri komunitas ini (termasuk pengaruh dari para
klerus pendamping), masih mengakar kuat di mindset
para pengurus dan anggota senior, terutama yang menghalangi komunitas dalam
memperbaharui dirinya.
Tentu kami menginginkan perubahan-perubahan. Kami ingin
komunitas selalu melihat tanda zaman, seperti yang Yesus sendiri sabdakan (Luk
12:56-57).
Bacaan hari ini bagi saya memberikan pengertian kepada diri
saya sendiri, bahwa menjadi anak-anak Allah tetap yang terpenting. Yesus
meminta kita untuk menjadi pembawa damai. Damai, itulah yang terpenting. Saya
akhirnya sempat berbicara dengan koordinator mengenai aspirasi kami. Syukur
kepada Tuhan, dapat saya katakan beliau bukan bagian dari orang-orang yang
konservatif. Beliau memandang bahwa memang komunitas harus berkembang mengikuti
tanda-tanda zaman, namun beliau tidak berdaya apabila kami tidak turut serta
membantu beliau dalam mengubah organisasi. Meskipun saya tidak menyamakan kata
“damai” dengan kata “kompromi”, namun saya bisa melihat bahwa hubungan personal
tetap harus dijunjung tinggi baik dengan pengurus maupun anggota yang lain. Hal
ini karena yang diperjuangkan adalah perubahan sistemik, bukan menyasar pada
orang per orang. Meskipun dalam perjuangan nanti ada rasa sakit karena
benturan-benturan tertentu, namun Yesus sendiri tetap menginginkan kita
berdamai dengan siapapun, untuk berserah kepada-Nya sepenuhnya, sampai nanti
kita sendiri sama seperti Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Doa
Ya Allah semoga dalam
memperjuangkan kebaikan, walau harus berbeda pendapat, kami tetap mengedepankan
perdamaian. Semoga Roh Kudus yang penuh dengan pembaharuan, senantiasa
membaharui diri kami sendiri dengan kuasa-Nya, sehingga dapat memperbaharui
pula komunitas di manapun kami membaktikan diri kami untuk melayani-Mu. Ya
Yesus, semoga melalui kegiatan di komunitas dan pelayanan, kami dapat menjadi
sama dengan-Mu dengan keadaan-Mu yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar