Jangan biarkan orang lain mengendalikan siapa Anda!

Jumat 18 Oktober 2019

Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. (Luk 10:6)

Pada awal membaca Injil hari ini, entah mengapa Lukas 10:6 langsung  membuat saya terpana, dan merasa bahwa ayat inilah ayat emas saya hari ini. Padahal banyak ayat lain yang lebih familiar bagi saya, entah karena maknanya penting bagi Gereja atau bagi iman Kristiani pada umumnya. 

Ketika saya renung2kan lagi, ternyata memang satu minggu belakangan ini yang ada di benak saya adalah tentang bagaimana menghadapi keculasan orang lain, dan bagaimana saya harus bersikap menanggapinya.

Punya atasan yang suka melampiaskan emosinya ke bawahan, pastinya tidak enak dan menjadi beban tersendiri. Ini yang membuat saya akhir2 ini memikirkan bagaimana caranya suatu saat bisa "ngerjain" bahkan kalau perlu berontak dan seketika keluar dari pekerjaan dengan merendahkan orang yang kebetulan jadi atasan saya ini, dan kalau perlu menghina dia di depan bawahan lain agar ia malu. 

Tapi saya berpikir, kalau saya melakukan hal itu, justru saya yang sesungguhnya pantas dihina dan direndahkan. Saya justru akan menunjukkan bahwa saya terbeban dan lebih sakit dari atasan saya ini. Akibat yg akan terjadi juga akan merugikan saya dari segi apapun jika saya melakukannya. 

Saya kemudian teringat kutipan yang mengatakan cara kita memperlakukan orang lain lah yang menunjukkan kita siapa, sehingga ketika kita bereaksi sama dengan apa yang orang lain perlakukan kepada kita (khususnya yang buruk), sederhananya kita sama saja dengan  orang lain tersebut.

Kutipan ayat emas tersebut, bagi saya seperti konklusi induktif dari pengalaman saya selama seminggu ini. Yesus mengutus kita ke dunia dengan _default setting character_ manusia yang penuh dengan sukacita dan mendamai-sejahterakan. Kita wajib memberikan salam damai sejahtera kepada siapapun, baik yang memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan maupun sebaliknya. Perkara orang lain tidak pantas mendapatkannya, tidak menjadi masalah, karena damai sejahtera akan kembali kepada kita yang memberikannya.

Ayat emas tersebut menyadarkan saya, bahwa sebagai murid yang diutus, jati diri dan karakter saya adalah penyebar kabar baik dan damai sejahtera kepada siapapun.

Doa

Ya Allah Bapa, semoga kami selalu mengingat jati diri kami sebagai utusan-Mu ke dunia, yang memberi damai sejahtera bagi siapapun, seperti yang diajarkan oleh Putera-Mu Yesus Kristus. Ya Roh Kudus, apabila kami marah dan geram, lembutkanlah hati kami agar sadar sepenuhnya bahwa kasih adalah yang terutama.

Amin.

Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem