Rendah hati: Berani Melihat Masalah dan Memperjuangkannya
27 Oktober 2019
Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan.
(Sir 35:17-18)
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (Luk 18:13)
Bacaan hari ini sungguh mengetuk hati saya untuk membuat refleksi tentangnya dalam hidup saya.
Tuhan mengatakan bahwa doa orang miskin menembus langit naik surga.
Waktu saya berdoa Rosario hari ini, saya mendapatkan makna tentang bacaan tersebut.
Dua ayat emas yg saya kutip, saya rasakan begitu terkait.
Karakter orang miskin yang diceritakan, begitu menggugah saya. Tidak hanya sekedar menyangkal diri, kerendahan hati yang ditunjukan pemungut cukai, sungguh dijelaskan karakternya oleh Paulus. Yaitu bahwa orang yang rendah hati selalu sadar atas kelemahan dan dosa-dosanya di hadapan Tuhan. Orang rendah hati juga, tidak berhenti sampai keadilan diterimanya.
Dua hal ini yang menurut saya sering dilewatkan orang-orang dalam menyebut karakter rendah hati. Rendah hati bukanlah sekedar menerima keadaan diri yang lemah dan tak berdaya, dan rendah hati bukanlah sesimpel "tidak sombong".
Rendah hati jauh lebih dalam dari itu: ia sadar akan adanya masalah dalam dirinya, dan berani memperjuangkan hak-haknya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Ia tidak lari dari masalah. Ia mampu mendefinisikan masalah yang ada, dan berusaha untuk menyelesaikannya bahkan sampai Tuhan mau membuka pintu-Nya untuk mendatangkan keadilan.
Komentar
Posting Komentar