Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Membongkar dan Membelah Tembok Kolonial Iman dengan Kasih

Demikianlah kota itu terkepung sampai tahun yang kesebelas zaman raja Zedekia. Pada tanggal sembilan bulan yang keempat, ketika kelaparan sudah merajalela di kota itu dan tidak ada lagi makanan pada rakyat negeri itu, maka dibelah oranglah tembok kota itu dan semua tentara melarikan diri malam-malam melalui pintu gerbang antara kedua tembok yang ada di dekat taman raja, sekalipun orang Kasdim mengepung kota itu sekeliling. Mereka lari menuju ke Araba-Yordan. 2Raj 25:2-4 Membaca bacaan hari ini, khususnya pada ayat yang saya kutip tersebut, saya merenungkan hidup saya satu minggu ini.  Dari bacaan pertama, terlihat bahwa terjadi penaklukan Yerusalem oleh Nebukadnezar. Namun selang 11 tahun, ketika Raja Zedekia memerintah, rakyat mulai berontak karena kelaparan; tentara mulai membelot atau ada juga yang kabur, bahkan korban mulai berjatuhan. Di sini saya melihat gambaran sebuah kolonisasi kehidupan yang total hanya dapat dilawan dalam kondisi kesadaran akan kesengsaraan dan ket...

Disposisi Iman

Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita 1Yoh 14:12 Ayat ini bagi saya sangat penting bagi kehidupan beriman. Sebuah disposisi batin yang realistis sekaligus ideal, yaitu ketika dalam kehidupan kita menginternalisasikan Allah dari dan di dalam diri sekaligus melihat-Nya dalam ketakterhinggaan. Kasih adalah yang terutama, karena Allah menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam kemegahan-Nya. Ketika tidak ada sama sekali yang dapat diharapkan dari sesama (materi), kasih yang sempurna ada di dalamnya. Renungan saya minggu kemarin masih menjadi sesuatu yang ingin saya refleksikan. Sebuah komunitas di mana kasih ada di dalamnya, tidak akan pecah hanya karena ada satu atau dua konflik dan pertengkaran bahkan caci maki. Setidaknya itu yang dapat saya temukan sampai saat ini di komunitas tersebut. Yang saya sesali adalah sikap terhadap cara berdialog yang sangat tidak elok. Namun demikian, saya ...

Fenomenologi Kenotis

Seperti yang ditulis sebagai judul blog ini, Kenotic Phenomenology, adalah sebuah gagasan akan cara beriman. Gagasan ini saya dapatkan dari buku Adam Y. Wells berjudul The Manifest and the Revealed: A Phenomenology of Kenosis (2018). Menurut Wells, secara esensial fenomenologi Husserl menemukan bentuk paling radikalnya pada kenosis. Kenosis merupakan sebuah konsep yang menjelaskan spiritualitas pengorbanan Yesus yang mengosongkan dirinya dari ke-Allah-an, dari kemahakuasaannya dengan turun ke dunia dan menjadi manusia biasa. Konsep ini berasal dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi 2:7, "[ Yesus ] telah  mengosongkan  diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia". Kenosis berarti pengosongan diri yang paling sempurna. Demikian pula fenomenologi, sebuah upaya untuk memahami manusia sebagai subjek transenden, dengan menyingkirkan epoche yang ada guna meraih eidos, atau untuk memahami esensi dari sesuatu dirinya sendiri. Kosong di si...

Insubordinasi Transenden

Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. 1Raj 19:11 Begitu membaca bacaan hari ini, saya langsung tertarik pada ayat tersebut. Tentu ceriteranya menunjukkan bahwa Tuhan akhirnya datang dan membimbing Elia kembali ke jalannya melalui gurun di Damsyik. Namun yang paling menarik justru bukan pada saat Tuhan datang, melainkan pada saat Elia tidak menemukan Tuhan sama sekali. Bagi saya ayat ini sangat bermakna, karena menunjukkan seorang manusia yang tetap berjuang meski tidak menemukan Tuhan di mana-mana. Bagi saya ayat ini jauh lebih penting dari ayat-ayat lain yang memberikan angin segar bagi kita manusia yang sedang berjuang di dunia, "bahwa Tuhan pasti datang memenuhi janjinya, dst, dst". Di...

Tuhan ikut Menderita Bersama Kita

Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, 2Tim 3:12 Permenungan saya hari ini adalah mengenai penderitaan. Dia yang berani menderita adalah sang pengikut Kristus sejati. Kristus ikut menderita bersama-sama dengan kita hari ini, hari besok dan hari yang akan datang. Bagi saya hal itulah yang harus diingat dalam kehidupan beriman. Jika dilihat, betapa tragis kehidupan manusia di dunia. Saya sendiri selalu bertanya, apakah ada harapan yang bisa mengandaskan semua tragik tersebut. Apakah semuanya akan baik2 saja? Saya tidak tahu. Dan pada saat ini saya mulai ingin berhenti beriman dengan hanya mengandalkan harapan. Tapi melalui ayat hari ini saya sadar bahwa iman harus mengandalkan penderitaan dan menyadari bahwa Tuhan juga turut menderita bersama2 dengan umat-Nya. Yang saya kagumi dari Bunda Teresa misalnya, adalah kesetiaannya ketika ia merasa kosong dan jauh dari kehadiran Tuhan. Pada saat ia setia dan kosong padahal tanpa harap...

Fenomenologi Husserl: Sebuah Krisis Pengetahuan dan Pemaknaan

Theory without empirical research is empty, empirical research without theory is blind -Pierre Bordieu via Kant Setelah membaca sekilas buku The Crisis of European Sciences and Trancendental Phenomenology: An Introduction to Phenomenological Philosophy , oleh Edmund Husserl, tentu yang dapat saya paparkan dalam tulisan ini hanyalah sekilas dari apa yang ada dalam keseluruhan ide buku ini. Husserl, menulis bukunya dalam kondisi sakit parah dan akhirnya meninggal sebelum betul-betul menyelesaikannya. Buku ini disusun pada saat Eropa sedang mengalami sebuah perubahan. Eropa pada masa Edmund Husserl adalah Eropa yang sedang mengalami sebuah “krisis”, utamanya krisis ilmu pengetahuan dan psikologi. Edmund Husserl, seorang matematikawan sekaligus filsuf, memandang bahwa s ebagaimana ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menjelaskan fenomena-fenomena berdasarkan pengukuran rasional para peneliti, ternyata ilmu pengetahuan tersebut belum mampu menyadari bahwa proses pengukuran tersebut...

Sublasi Penolakan dan Penerimaan

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Yoh 21:18 Adanya penolakan dan penerimaan yang saya alami sampai saat ini, bagaikan sebuah mesin penggerak sejarah dalam kehidupan saya. Yesus tiga kali bertanya kepada Petrus. Bagi saya, Yesus ingin mengkonfirmasikan keyakinan Petrus terhadap perjuangan hidupnya untuk memuliakan Allah. Tiga kali pertanyaan itu, bagi saya seperti proses sublasi dalam sebuah dialektika. Pertanyaan pertama bagaikan mengulang fase hidup Petrus yang pertama, yang hanya sebagai nelayan, sebuah tesis. Pertanyaan kedua, bagaikan fase hidup Petrus yang kedua, yang sudah menjadi murid Yesus, sebuah antitesis. Pertanyaan ketiga bagikan fase hidup Petrus yg ketiga yakni yang percaya bahwa Yesus penyelamat d...