Sublasi Penolakan dan Penerimaan

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”

Yoh 21:18

Adanya penolakan dan penerimaan yang saya alami sampai saat ini, bagaikan sebuah mesin penggerak sejarah dalam kehidupan saya.

Yesus tiga kali bertanya kepada Petrus. Bagi saya, Yesus ingin mengkonfirmasikan keyakinan Petrus terhadap perjuangan hidupnya untuk memuliakan Allah.

Tiga kali pertanyaan itu, bagi saya seperti proses sublasi dalam sebuah dialektika. Pertanyaan pertama bagaikan mengulang fase hidup Petrus yang pertama, yang hanya sebagai nelayan, sebuah tesis. Pertanyaan kedua, bagaikan fase hidup Petrus yang kedua, yang sudah menjadi murid Yesus, sebuah antitesis. Pertanyaan ketiga bagikan fase hidup Petrus yg ketiga yakni yang percaya bahwa Yesus penyelamat dunia dari penindasan dosa: bukan sekedar penindasan manusia, sebuah sintesis.

Dan dengan sangat indah, Yesus memberikan sebuah kontradiksi muda-tua untuk merangkum dialektika kehidupan Petrus: sebelum ikut Yesus dan setelah ikut Yesus.

Akhir-akhir ini saya juga memikirkan sebuah sublasi. Sebuah tahapan hidup di mana saya sudah harus menemukan sintesis hidup saya. Memang kehidupan terus berlanjut, sejarah belum berakhir, dan dengan demikian dialektika terus berlanjut. Namun, bagaimanapun, seorang manusia perlu membuat klosuritas di tengah keterbatasan umurnya, di tengah keterbatasan fananya.

Saya merenungkan bahwa begitu banyak penolakan yang saya alami, namun begitu banyak pula penerimaan yang saya nikmati. Saya tidak mau terburu2 bersyukur. Tapi saya terlebih tidak mau terkerangkeng dalam kekecewaan. Karena keduanya sangat baik. Ketika tidak ada yg menolak, kita akan cenderung tidak dapat menemukan diri kita sendiri. Penolakan, selain memberikan motivasi lebih untuk pembuktian, memberikan pula semacam diferensiasi yang saya perlukan untuk membentuk diri saya. Saya bisa memberikan perbedaan dalam diri saya terhadap yang lain. Suatu upaya untuk memberikan warna dan juga seni.

Bagi saya, ketidakmampuan dalam men-sublasi-kan semua penolakan dan penerimaan menjadi suatu distingsi sebagai kekuatan dalam hidup, akan menjadikan saya gagal dalam memberikan warna dan seni dalam hidup. Bahkan, saya akan cenderung memoralisasi penolakan dan penerimaan. Saya akan cenderung membenci dan berusaha balas dendam kpd org yg menolak saya. Di sisi lain, saya akan bersikap kolutif dan bias terhadap yg menerima saya.

Cerita Yusuf dan kejayaannya di Mesir masih jadi satu2nya yang begitu menginspirasi hidup saya. Realita penolakan yg begitu pahit oleh saudara2nya, tidak ia jadikan bahan utk balas dendam, melainkan sebagai alasan untuk memberikan kasih sayang. Lebih dari itu, Yusuf menggunakannya sebagai modal untuk berhikmat. Yusuf telah menemukan sintesis dalam sublasi antara hidup awalnya yg bahagia dan disayang orang tua, dengan hidup dibuang oleh saudara dan mengalami kecurangan oleh istri Potifar.

Yesus pada hari ini memberikan pandangan yang kontras, yg memudahkan saya melihat fase kehidupan seorang kristiani. Pada awalnya kita bebas kemana saja ketika muda, tapi ketika tua, kita harus bersikap dan mau ikut Tuhan. Artinya, bagi saya, lebih daripada sekedar kematian Petrus, melainkan seseorang yang harus segera menemukan jati dirinya dan sintesis dalam kehidupannya. Yesus sampai harus menanyakan Petrus hingga tiga kali, bukan tanpa alasan. Tentu saya hanya melalukan sebuah analisis ketika mengatakan bahwa tiga pertanyaan itu bagaikan proses dialektika, dan dalam konteks permenungan reflektif berkaca pada kondisi saya yang saat ini merasakan hidup berada dalam fase sublasi: antara muda dan tua, antara penolakan dan penerimaan.

Doa

Ya Allah, terima kasih atas berkat kehidupan yang boleh diriku refleksikan dan maknai. Kubersyukur atas kehidupan yang boleh kujalani baik susah maupun senang, baik penolakan maupun peneriman.  Terpujilah nama-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin

Antonius Semmy Tyar Armandha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem