Insubordinasi Transenden
Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
1Raj 19:11
Begitu membaca bacaan hari ini, saya langsung tertarik pada ayat tersebut. Tentu ceriteranya menunjukkan bahwa Tuhan akhirnya datang dan membimbing Elia kembali ke jalannya melalui gurun di Damsyik. Namun yang paling menarik justru bukan pada saat Tuhan datang, melainkan pada saat Elia tidak menemukan Tuhan sama sekali. Bagi saya ayat ini sangat bermakna, karena menunjukkan seorang manusia yang tetap berjuang meski tidak menemukan Tuhan di mana-mana. Bagi saya ayat ini jauh lebih penting dari ayat-ayat lain yang memberikan angin segar bagi kita manusia yang sedang berjuang di dunia, "bahwa Tuhan pasti datang memenuhi janjinya, dst, dst".
Di sini Elia pasti mengalami kebingungan, karena Tuhan tidak ada. Tuhan sama sekali tidak menunjukkan hadirat-Nya. Angin dan gempa berlalu, tetapi Tuhan tak kunjung datang. Bagi saya ini poin krusial, titik di mana manusia menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang tidak bertuhan. Tapi tunggu dulu, ini bukan merujuk pada ateisme. Ini adalah tentang beriman tanpa kesombongan. Pada titik ini, manusia tidak sedikitpun mampu menunjukkan bahwa Tuhan akan hadir. Kehadiran Tuhan seakan ditangguhkan untuk sementara. Pada titik inilah, justru Elia tidak menyerah dan tetap mencari Tuhan.
Seringkali saya melihat dan mendengarkan bahkan baru saja kemarin, di sebuah Grup Whatsapp pelayanan Gereja, ada orang (dan sekelompok orang) yang membawa-bawa Firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, untuk menghakimi orang lain, bahkan untuk menyingkirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Mereka menyatakan diri bersama-sama dengan Tuhan untuk menyalahkan orang lain untuk mendiskreditkan orang lain. Ini bukan soal salah dan benar, namun tindakan mendiskreditkan orang lain itu yang membuat suasana dalam grup whatsapp itu seperti Perang Salib. Apakah dengan menggunakan Firman Allah otomatis membuat Allah mendukung tindakan atau pernyataan seseorang? Apakah dengan itu sebuah argumentasi dinyatakan valid dan logis? Dan apakah manusia punya kuasa untuk mendosakan orang lain?
Saya sendiri tidak terlibat dalam "adu mulut virtual" yang terjadi dan hanya menyaksikan dengan penuh keingintahuan yang netral. Saya menyebut apa yang terjadi itu lebih kepada "adu mulut" karena dialog yang terjadi tidak seperti diskusi atau debat, di mana anggota grup bertukar pikiran dan menerima perbedaan yang ada. Dalam grup itu tidak lebih dari caci-maki yang menggunakan Firman Allah sebagai pembenaran pendapatnya, karena satu dengan yang lain merasa perbedaan argumen adalah "serangan ofensif" terhadap pribadi mereka. Mereka tidak menganggap sebuah diskusi adalah cara untuk berdialog. Mereka menganggap diskusi adalah tindakan insubordinasi layaknya institusi militer yang struktur organisasinya terdiri dari Komandan dan Prajurit; yang layak diberangus dan dihukum mati.
Ayat hari ini memberikan saya pemahaman mengapa itu terjadi. Mengapa dengan mudahnya kita menggunakan Firman sebagai alat untuk menggulingkan orang lain, dan pada saat yang sama menganggap perbedaan sebagai serangan ofensif terhadap posisi pribadi. Sehingga saya sampai pada sebuah proposisi: mungkin kita harus dihadapkan pada posisi Elia, yang tidak menemukan Tuhan sama sekali. Jika selama ini kita mengenal aliran agnostik, maka mungkin Tuhan sendiri yang harus jadi agnostik untuk kali ini.
Sebuah pencerahan yang saya dapatkan dari seorang filsuf asal Slovenia bernama Slavoj Zizek. Zizek mendaku seorang "Ateis Kristen". Apa itu "Ateis Kristen"? Sederhananya, ateis kristen adalah orang yang memilih jalan hidup seperti seorang Kristen, tapi tidak mengakui adanya Tuhan yang transenden. Tuhan itu imanen. Ia mati di kayu salib untuk menunjukkan bahwa manusia harus bekerja keras untuk dirinya sendiri tanpa mengharap jaminan dari siapapun termasuk Tuhan. Tuhan yang transenden telah mati digantikan dengan yang imanen. Namun apakah berarti manusia tidak dapat beriman? Justru dalam ke-ateis-annya, dalam kesadarannya bahwa tidak ada jaminan apapun, iman lebih teruji, atau dengan bahasa dramatisnya: berada pada titik paling tulusnya. Tidak ada klaim-klaim bahwa kita didukung Tuhan, tidak ada yang mengatasnamakan Firman Allah untuk membenarkan pendapat pribadinya.
Lalu apakah saya sebagai pribadi punya keinginan menjadi seorang ateis kristen? Jawabannya tentu tidak, karena saya sebagai pribadi harus memiliki state of the art sendiri. Menurut saya, Tuhan tetap menjadi hal yang sentral bagi kehidupan kita, namun tidak untuk menjadi pembenar segala yang kita lakukan, tidak menjadi pembenar apa yang kita lakukan itu semata satu-satunya benar.
Saya sendiri pernah menjadi orang yang begitu naif dengan menggunakan apa yang saya tahu (termasuk Firman Allah) untuk membenarkan argumentasi dan perbuatan saya. Setelah saya mempelajari banyak hal, saya menjadi sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa! Saya tidak memahami apa-apa dan saya sadar bahwa Allah tahu segalanya tentang saya. Setelah saya menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa, lantas bukan berarti saya mengharuskan orang lain untuk tidak tahu apa-apa juga, melainkan menerima sebagai masukan, apapun yang diketahui mereka.
Doa
Ya Allah, terima kasih atas penebusan dosa dalam Yesus Kristus. Semoga kami yang telah ditebus, menyadari sepenuhnya makna penebusan tersebut, sehingga kami dapat hidup dengan beriman yang setulusnya dan juga sekuatnya terhadap-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami
Amin
Antonius *Semmy* Tyar Armandha
1Raj 19:11
Begitu membaca bacaan hari ini, saya langsung tertarik pada ayat tersebut. Tentu ceriteranya menunjukkan bahwa Tuhan akhirnya datang dan membimbing Elia kembali ke jalannya melalui gurun di Damsyik. Namun yang paling menarik justru bukan pada saat Tuhan datang, melainkan pada saat Elia tidak menemukan Tuhan sama sekali. Bagi saya ayat ini sangat bermakna, karena menunjukkan seorang manusia yang tetap berjuang meski tidak menemukan Tuhan di mana-mana. Bagi saya ayat ini jauh lebih penting dari ayat-ayat lain yang memberikan angin segar bagi kita manusia yang sedang berjuang di dunia, "bahwa Tuhan pasti datang memenuhi janjinya, dst, dst".
Di sini Elia pasti mengalami kebingungan, karena Tuhan tidak ada. Tuhan sama sekali tidak menunjukkan hadirat-Nya. Angin dan gempa berlalu, tetapi Tuhan tak kunjung datang. Bagi saya ini poin krusial, titik di mana manusia menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang tidak bertuhan. Tapi tunggu dulu, ini bukan merujuk pada ateisme. Ini adalah tentang beriman tanpa kesombongan. Pada titik ini, manusia tidak sedikitpun mampu menunjukkan bahwa Tuhan akan hadir. Kehadiran Tuhan seakan ditangguhkan untuk sementara. Pada titik inilah, justru Elia tidak menyerah dan tetap mencari Tuhan.
Seringkali saya melihat dan mendengarkan bahkan baru saja kemarin, di sebuah Grup Whatsapp pelayanan Gereja, ada orang (dan sekelompok orang) yang membawa-bawa Firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, untuk menghakimi orang lain, bahkan untuk menyingkirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Mereka menyatakan diri bersama-sama dengan Tuhan untuk menyalahkan orang lain untuk mendiskreditkan orang lain. Ini bukan soal salah dan benar, namun tindakan mendiskreditkan orang lain itu yang membuat suasana dalam grup whatsapp itu seperti Perang Salib. Apakah dengan menggunakan Firman Allah otomatis membuat Allah mendukung tindakan atau pernyataan seseorang? Apakah dengan itu sebuah argumentasi dinyatakan valid dan logis? Dan apakah manusia punya kuasa untuk mendosakan orang lain?
Saya sendiri tidak terlibat dalam "adu mulut virtual" yang terjadi dan hanya menyaksikan dengan penuh keingintahuan yang netral. Saya menyebut apa yang terjadi itu lebih kepada "adu mulut" karena dialog yang terjadi tidak seperti diskusi atau debat, di mana anggota grup bertukar pikiran dan menerima perbedaan yang ada. Dalam grup itu tidak lebih dari caci-maki yang menggunakan Firman Allah sebagai pembenaran pendapatnya, karena satu dengan yang lain merasa perbedaan argumen adalah "serangan ofensif" terhadap pribadi mereka. Mereka tidak menganggap sebuah diskusi adalah cara untuk berdialog. Mereka menganggap diskusi adalah tindakan insubordinasi layaknya institusi militer yang struktur organisasinya terdiri dari Komandan dan Prajurit; yang layak diberangus dan dihukum mati.
Ayat hari ini memberikan saya pemahaman mengapa itu terjadi. Mengapa dengan mudahnya kita menggunakan Firman sebagai alat untuk menggulingkan orang lain, dan pada saat yang sama menganggap perbedaan sebagai serangan ofensif terhadap posisi pribadi. Sehingga saya sampai pada sebuah proposisi: mungkin kita harus dihadapkan pada posisi Elia, yang tidak menemukan Tuhan sama sekali. Jika selama ini kita mengenal aliran agnostik, maka mungkin Tuhan sendiri yang harus jadi agnostik untuk kali ini.
Sebuah pencerahan yang saya dapatkan dari seorang filsuf asal Slovenia bernama Slavoj Zizek. Zizek mendaku seorang "Ateis Kristen". Apa itu "Ateis Kristen"? Sederhananya, ateis kristen adalah orang yang memilih jalan hidup seperti seorang Kristen, tapi tidak mengakui adanya Tuhan yang transenden. Tuhan itu imanen. Ia mati di kayu salib untuk menunjukkan bahwa manusia harus bekerja keras untuk dirinya sendiri tanpa mengharap jaminan dari siapapun termasuk Tuhan. Tuhan yang transenden telah mati digantikan dengan yang imanen. Namun apakah berarti manusia tidak dapat beriman? Justru dalam ke-ateis-annya, dalam kesadarannya bahwa tidak ada jaminan apapun, iman lebih teruji, atau dengan bahasa dramatisnya: berada pada titik paling tulusnya. Tidak ada klaim-klaim bahwa kita didukung Tuhan, tidak ada yang mengatasnamakan Firman Allah untuk membenarkan pendapat pribadinya.
Lalu apakah saya sebagai pribadi punya keinginan menjadi seorang ateis kristen? Jawabannya tentu tidak, karena saya sebagai pribadi harus memiliki state of the art sendiri. Menurut saya, Tuhan tetap menjadi hal yang sentral bagi kehidupan kita, namun tidak untuk menjadi pembenar segala yang kita lakukan, tidak menjadi pembenar apa yang kita lakukan itu semata satu-satunya benar.
Saya sendiri pernah menjadi orang yang begitu naif dengan menggunakan apa yang saya tahu (termasuk Firman Allah) untuk membenarkan argumentasi dan perbuatan saya. Setelah saya mempelajari banyak hal, saya menjadi sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa! Saya tidak memahami apa-apa dan saya sadar bahwa Allah tahu segalanya tentang saya. Setelah saya menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa, lantas bukan berarti saya mengharuskan orang lain untuk tidak tahu apa-apa juga, melainkan menerima sebagai masukan, apapun yang diketahui mereka.
Doa
Ya Allah, terima kasih atas penebusan dosa dalam Yesus Kristus. Semoga kami yang telah ditebus, menyadari sepenuhnya makna penebusan tersebut, sehingga kami dapat hidup dengan beriman yang setulusnya dan juga sekuatnya terhadap-Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami
Amin
Antonius *Semmy* Tyar Armandha
Komentar
Posting Komentar