Fenomenologi Kenotis

Seperti yang ditulis sebagai judul blog ini, Kenotic Phenomenology, adalah sebuah gagasan akan cara beriman. Gagasan ini saya dapatkan dari buku Adam Y. Wells berjudul The Manifest and the Revealed: A Phenomenology of Kenosis (2018). Menurut Wells, secara esensial fenomenologi Husserl menemukan bentuk paling radikalnya pada kenosis. Kenosis merupakan sebuah konsep yang menjelaskan spiritualitas pengorbanan Yesus yang mengosongkan dirinya dari ke-Allah-an, dari kemahakuasaannya dengan turun ke dunia dan menjadi manusia biasa. Konsep ini berasal dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi 2:7, "[Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia". Kenosis berarti pengosongan diri yang paling sempurna. Demikian pula fenomenologi, sebuah upaya untuk memahami manusia sebagai subjek transenden, dengan menyingkirkan epoche yang ada guna meraih eidos, atau untuk memahami esensi dari sesuatu dirinya sendiri. Kosong di sini, berarti kita telah menyingkirkan prasangka-prasangka yang muncul dari presuposisi kita yang di pradeterminasikan bahkan sebelum kita sempat berpikir dan berbahasa, yang menentukan pemahaman kita akan sesuatu. Senada dengan Wells, saya memandang bahwa kenosis adalah bentuk paling radikal dari fenomenologi. 

Bagi saya, kenosis bahkan menjadi cara utama dalam beriman di kehidupan yang religius. Di sini religius bukan dalam arti beragama, melainkan dalam arti meyakini suatu pola pikir atau sistem kehidupan (atau yang disebut Hegel sebagai ideologi), di mana kita tidak dapat mengkomprehensifkannya secara total. Kita butuh orang lain untuk memahami totalitas sistem kehidupan, yang oleh karenanya kita membutuhkan kepercayaan terhadap sistem pola pikir tersebut, untuk memudahkan kita mendapatkan apa yang disebut Durkheim sebagai worldviews. 

Hegel sendiri juga mengonsepsikan kenosis sebagai basis idealismenya, dan sebagai epistemologinya. Baginya, kenosis merupakan cara bagaimana kita bisa berbeda dan berdialog dalam perbedaan cara pandang, tanpa harus mendominasi. Bagi Hegel, pengorbanan adalah salah satu kunci untuk mendapatkan kekosongan yang kenotis. Bagi Hegel, Yesus yang disalib dan mati adalah Tuhan sendiri yang turun untuk mati. Pengorbanan dalam hal ini berhasil menunjukkan kekosongan yang sempurna, untuk kemudian diisi oleh iman yang sebenarnya.

Sampai di sini, saya kemudian merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kehidupan beriman. Seringkali kita beriman dengan salah. Saya katakan salah (jika tidak munafik), karena menyamakan iman dengan kepercayaan dan keyakinan. Kita beriman karena percaya akan sebuah janji, sebuah harapan, yang menjamin posisi kita tetap di posisi kita, yang menjamin kebahagiaan kita. Tuhan diposisikan sebagai jangkar apabila terjadi apa-apa, "kapal" bisa ditarik ke arah jangkar. Tuhan digunakan sebagai basis legitimasi subjektivitas kita. Akhirnya, Tuhan tidak lebih dari dewa-dewi yang menjanjikan harta dan kesuksesan. 

Slavoj Zizek dalam bukunya The Courage of Hopelessness menunjukkan bahwa sebuah perubahan hanya dapat terwujud dalam kondisi pengakuan: pengakuan akan tidak adanya harapan, tidak adanya jaminan. Menurutnya, harapan akan sebuah alternatif adalah pengecut (cowardice). Dari buku ini saya memahami bahwa sebuah perubahan tidak akan terjadi jika kita terus mengulang hal-hal yang sama, yaitu utamanya menggunakan basis legitimasi tradisional yang salah untuk digubakan sebagai basis legitimasi dalam bentuknya yang baru.

Sebuah religi baru yang ditawarkan oleh Zizek sendiri mungkin dapat membantu mengkonkritkan ini semua. Zizek menawarkan ateisme kristen. Ateis kristen hidup selayaknya umat kristiani pada umumya, namun dengan penerimaan bahwa Ia sudah mati (atau tidak pernah ada sama sekali). Craig Groeschel juga membahasa dalam bukunya di mana kita percaya akan Tuhan, tapi tetap hidup dengan realistis dan maksimal. Yesus naik ke surga, dan menjanjikan Roh Kudus sebagai pengganti-Nya berkarya di dunia. Bagi Zizek, Roh Kudus adalah tidak lain cinta kasih antara sesama manusia. Di mana ada cinta kasih di situ ada Roh Kudus. Di mana ada Roh Kudus, Yesus berkarya. 

Di sinilah poin krusialnya. Beriman, dengan kata lain adalah dengan cara mengakui terlebih dahulu bahwa Tuhan telah mati di kayu salib. Tidak ada pengharapan, tidak ada jaminan. Kita semua yang hidup, ada dalam fase 3 hari sebelum kebangkitan-Nya. Ya, 3 hari itu adalah umur kita di dunia. 3 hari itu adalah waktu di mana Yunus hidup di dalam perut paus. 3 hari itu adalah waktu di mana para murid mulai gelisah. Pertanyaannya, apakah dalam 3 hari itu kita semua masih tahan untuk melaksanakan perintah cinta kasih-Nya? Dalam kondisi tidak ada kepastian apakah kita masih mencintai Yesus dengan segala ajaran-Nya? Itulah iman. 

Sekarang bayangkan Bunda Teresa yang mengalami desolasi (kegelapan) selama 10 tahun. Ia tidak merasakan kehadiran Tuhan. Ia tidak merasakan aman, tidak merasakan jaminan. Namun ia bangkit dan tetap melayani umatnya di Kalkuta dengan penuh kasih sayang. 

Itulah iman menurut proposisi saya: Fenomenologi Kenotis 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem