Fenomenologi Husserl: Sebuah Krisis Pengetahuan dan Pemaknaan
Theory without empirical research is empty, empirical research without theory is blind
-Pierre Bordieu via Kant
Setelah membaca sekilas buku The Crisis of European Sciences and Trancendental Phenomenology: An Introduction to Phenomenological Philosophy, oleh Edmund Husserl, tentu yang dapat saya paparkan dalam tulisan ini hanyalah sekilas dari apa yang ada dalam keseluruhan ide buku ini. Husserl, menulis bukunya dalam kondisi sakit parah dan akhirnya meninggal sebelum betul-betul menyelesaikannya. Buku ini disusun pada saat Eropa sedang mengalami sebuah perubahan. Eropa pada masa Edmund Husserl adalah Eropa yang sedang mengalami sebuah “krisis”, utamanya krisis ilmu pengetahuan dan psikologi. Edmund Husserl, seorang matematikawan sekaligus filsuf, memandang bahwa sebagaimana ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menjelaskan fenomena-fenomena berdasarkan pengukuran rasional para peneliti, ternyata ilmu pengetahuan tersebut belum mampu menyadari bahwa proses pengukuran tersebut melibatkan proses kognitif manusia. Manusia mengalami fenomena-fenomena tersebut, dan kognisi manusia dalam memahami pemahaman tersebut merupakan proses yang masih meninggalkan lubang misteri bagi Husserl. Lewat buku The Crisis of European Sciences and Trancendental Phenomenology, Husserl menyajikan sebuah refleksi teleologi-historis tentang asal-usul dan situasi filosofis di zamannya, yang memunculkan urgensi baginya untuk mengajukan suatu rumpun keilmuan baru untuk menyadari betapa pemaknaan manusia akan suatu fenomena juga memerlukan penelaahan dibanding objek itu sendiri. Teleologi-historis, adalah upaya untuk memahami segala sesuatu dan segala kejadian tertentu menuju pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, Husserl ingin mengantar kita pada pentingnya mempelajari cabang filsafat baru yakni fenomenologi, atau yang menurut versi pengembangannya, adalah fenomenologi transendental.
-Pierre Bordieu via Kant
Setelah membaca sekilas buku The Crisis of European Sciences and Trancendental Phenomenology: An Introduction to Phenomenological Philosophy, oleh Edmund Husserl, tentu yang dapat saya paparkan dalam tulisan ini hanyalah sekilas dari apa yang ada dalam keseluruhan ide buku ini. Husserl, menulis bukunya dalam kondisi sakit parah dan akhirnya meninggal sebelum betul-betul menyelesaikannya. Buku ini disusun pada saat Eropa sedang mengalami sebuah perubahan. Eropa pada masa Edmund Husserl adalah Eropa yang sedang mengalami sebuah “krisis”, utamanya krisis ilmu pengetahuan dan psikologi. Edmund Husserl, seorang matematikawan sekaligus filsuf, memandang bahwa sebagaimana ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menjelaskan fenomena-fenomena berdasarkan pengukuran rasional para peneliti, ternyata ilmu pengetahuan tersebut belum mampu menyadari bahwa proses pengukuran tersebut melibatkan proses kognitif manusia. Manusia mengalami fenomena-fenomena tersebut, dan kognisi manusia dalam memahami pemahaman tersebut merupakan proses yang masih meninggalkan lubang misteri bagi Husserl. Lewat buku The Crisis of European Sciences and Trancendental Phenomenology, Husserl menyajikan sebuah refleksi teleologi-historis tentang asal-usul dan situasi filosofis di zamannya, yang memunculkan urgensi baginya untuk mengajukan suatu rumpun keilmuan baru untuk menyadari betapa pemaknaan manusia akan suatu fenomena juga memerlukan penelaahan dibanding objek itu sendiri. Teleologi-historis, adalah upaya untuk memahami segala sesuatu dan segala kejadian tertentu menuju pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, Husserl ingin mengantar kita pada pentingnya mempelajari cabang filsafat baru yakni fenomenologi, atau yang menurut versi pengembangannya, adalah fenomenologi transendental.
Eropa pada masa
pencerahan (Renaissance), berhasil
melalui krisis pengetahuannya dengan meruntuhkan pemahaman kuno pada zaman
kegelapan. Bagi Husserl, sayangnya kemampuan tersebut telah tertutup oleh
perkembangan pesat positivisme. Positivisme, menyingkirkan sama sekali peranan
subjek dalam penelitian. Padahal manusia memiliki dimensi dan ruang pemaknaan,
yang terlahir melalui pengalaman. Husserl menyayangkan, mengapa pengetahuan justru kehilangan momentum melewati masa-masa krisis di Eropa tersebut. Eropa pada masa
Husserl hidup, dipenuhi oleh lika-liku fenomena yang sangat kental dengan
campur tangan manusia. Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu eksakta semakin tidak
dapat membantu dalam memahami kondisi ini. Ilmu matematika, khususnya sebagai
bidang keilmuan Husserl sebelumnya, sesungguhnya dibentuk dari proses-proses
kognisi manusia yang berasal dari rasio. Rasio berasal dari reason, atau alasan, atau dasar dari
suatu penalaran. Bagi Husserl, reason itu
sendiri yang memberikan pemaknaan kepada segala sesuatunya, sehingga ilmu eksak
dalam bentuk apapun adalah selalu merupakan hasil dari pemaknaan subjek.
Husserl menunjukkan hal tersebut dengan membedah ilmu geometri Galileo, yang
keseluruhannya memiliki unsur subjektif. Husserl menawarkan pendekatan fenomenologi
transenden untuk memahami lebih dalam pada pemaknaan subjek terhadap objek
berdasarkan pengalaman yang berasal dari kesadaran manusia. Semua kegiatan yang
berdasarkan kesadaran, memiliki intensionalitas. Intensionalitas adalah
keterkaitan antara subjek dan objek, yaitu ketika subjek sadar akan sesuatu
objek tertentu. Kesadaran tersebutlah yang memungkinkan manusia memberikan
pemaknaan terhadap objek fenomena tertentu. Dengan demikian, realita dan
kesadaran merupakan satu kesatuan. Realita tidak akan terjadi tanpa kesadaran,
dan kesadaran adalah selalu akan sesuatu (objek).
Objektivisme yang berlandaskan
naturalisme, dimana ilmu alam dapat sepenuhnya menangkap dan memahami sesuatu
dalam dirinya sendiri, adalah pemikiran yang hendak dikritisi oleh Edmund
Husserl. Pada bagian kedua buku Crisis,
Husserl menjabarkan pertentangan antara naturalisme sebagai kubu yang dikritik
Husserl, dan transendentalisme subjektif sebagai yang diusung oleh Husserl
untuk mengkritiknya. Terdapat dua pemikir yang dapat dijadikan acuan dalam
naturalisme, yaitu John Locke dan George Berkeley. Locke dipandang terlalu
menerima begitu saja pandangan Rene Descartes tentang jiwa sebagai sesuatu yang
nyata dalam dirinya sendiri, sementara Descartes meskipun dikagumi oleh Husserl
karena berhasil menemukan unsur ego dalam
pengetahuan, telah gagal pula dalam menjelaskan matematisasi alam yang
Descartes pinjam dari Galileo. Skeptisisme Descartes tidak cukup untuk
menyingkirkan (atau dalam bahasa Husser, mereduksi secara fenomenologis) residu-residu
pemikiran Galileo. Husserl juga mengagumi Galileo sebagai pemikir yang mampu
menghadirkan revolusi modern ilmu alam dengan matematisasi alam, sehingga
manusia dapat memahami alam dalam dirinya sendiri (das ding an sich). Namun demikian, matematisasi tersebut
menunjukkan bahwa ada rasa penting untuk memahami alam secara menyeluruh
tersebut. Rasa penting itulah yang menurut Husserl adalah juga bagian dari
transendetalisme subjektif.
Bagian kedua tersebut
mengantar ke bagian ketiga buku ini. Husserl pada bagian ini membedah prasangka
tak terungkap dalam pemikiran Immanuel Kant mengenai rasionalisme. Menurutnya,
Kant justru tidak mempertanyakan apa yang harus dipertanyakan dari logika dasar
dari rasionalisme itu sendiri, yaitu struktur subjektif dari kesadaran kita
akan dunia yang membuat manusia dapat berpikir dengan instrumen yang murni
menggunakan akal pikir seperti matematika, yang sifatnya tentu apriori
(mengandalkan deduksi/umum-khusus). Kant berpendapat bahwa manusia hanya dapat
mengetahui sesuatu yang bisa dialami langsung seperti alam. Bagi Husserl, tanpa
mempertanyakan ‘manusia’ nya, maka keilmuan tidak akan dapat diketahui sesuatu
tersebut. Meski filsafat Kant dikenal dengan kritisismenya, namun ada hal yang
luput dari kritisisme tersebut, yaitu subjektifitas manusia. Pemikiran Kant
memisahkan antara fenomena dan noumena. Fenomena berarti pemaknaan akan
realitas yang terjadi, sedangkan noumena adalah realita yang berada di luar
pemahaman manusia (das ding an sich).
Manusia, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hanya dapat menangkap
fenomena sebagai hasil dari pengalaman inderawi. Bagi Husserl, penjelasan
tersebut belum cukup untuk memahami manusia. Menurutnya, manusia adalah subjek
sekaligus objek dalam dunia kehidupan. Di satu sisi kita berusaha mengenal dan
memahami manusia, di sisi lain manusia secara aktif dengan subjektifitasnya
berupaya mengenal dan memahaminya.
Yang dapat kita
ketahui dari Kant, adalah bahwa filsafat merupakan pertemuan dari faktor apriori dan aposteriori, yang berarti apa yang rasional perlu diperiksa dengan
yang empiris dan yang empiris perlu dipahami dengan yang rasional. Yang
rasional adalah yang transenden, yang tidak meneliti objek melainkan yang
menelaah pikiran-pikiran tentang objek tersebut. Dalam menanggapi rasionalisme
Kant, Husserl menetapkan fenomenologi sebagai bentuk terakhir idealisme
transendental yang dapat menggantikan kekurangan idealisme transendental Kant.
Sesuatu yang transenden menjadi dasar apriori kemungkinan bagi pengetahuan.
Bagi Husserl hal ini dapat dilihat pada diri manusia ketika mengalami fenomena,
yaitu pada penginderaan manusia terhadap setiap benda yang tampak (appear) yang akan menghasilkan persepsi.
Dalam menanggapi empirisisme Kant, Husserl memandang Kant masih belum
melepaskan faktor empiris sepenuhnya dilihat dari posisinya yang hanya melihat
jiwa sebagai bagian dari alam. Menurut Husserl, persepsi yang paling dalam dari
jiwa itu sendiri seharusnya betul-betul terlepas dan transenden. Dengan
demikian bagi Husserl, Kant tidak sungguh rasional dan juga tidak sungguh
empiris.
Fenomenologi transenden
berupaya untuk mengatasi keterbatasan Kant tersebut. Kant masih melihat ilmu
alam tidak terpisah dari alam itu sendiri, dan menerima metode-metodenya secara
terberi. Husserl menyebutnya sebagai mythical,
yang mempertahankan unsur-unsur mitos dalam objektifitas ilmu alam. Kekaguman
atas pemikran Rene Descartes sesunguhnya yang menjad dasar Husserl dalam
mengkritik posisi Kant tersebut. Husserl merasa Kant terlalu “tanggung” dalam
kritisismenya, dimana Descartes lebih kritis dengan tidak menerima begitu saja
metode apapun termasuk ilmu alam.
Bagi Husserl, realita tidak
dapat dipisahkan dari dimensi pemaknaan manusia terhadapnya, karena dari
pemaknaan tersebut manusia dapat menangkap dengan indranya penjelasan akan
fenomena-fenomena yang terjadi. Pemaknaan manusia terhadap suatu fenomena akan
membentuk realita, dan hal tersebut didapatkan melalui pengalaman langsung.
Buku The Crisis of European Sciences and
Trancendental Phenomenology, mengantar pemikiran fenomenologi Husserl,
bahwa Eropa sempat mengalami krisis pengetahuan akibat penggunaan cara berpikir
positivis yang tidak mengindahkan faktor subjek dalam memahami fenomena dan
membentuk realita. Akibatnya manusia menerima begitu saja penalaran dari orang
lain tanpa memahami konteks pengalaman dan subjektifitas dari ilmuwan ataupun
peneliti yang membentuk penalaran tersebut.
Husserl menunjukan dalam
bagian kedua dan ketiga mengenai pentingnya mengusulkan pemahaman baru tentang
trasendentalisme subjektif terutama yang berasal dari pemikiran Descartes dan
Kant. Husser berpandangan bahwa Kant tidak dapat dijadikan rujukan kembali
dalam kritisisme ilmu pengetahuan, sehingga membutuhkan fenomenologi transenden
untuk menggantikan transendentalisme Kant yang dipenuhi dengan ketidakmampuan
dalam membongkar unsur subjek itu sendiri. Kekaguman pada Descartes,
mempengaruhi cara Husserl dalam mengkritisi secara lebih radikal kritisisme
Kant. Oleh karenanya, dari rangkuman singkat tersebut dapat diketahui bahwa
Husserl berupaya meletakan pondasi baru filsafat dengan fenomenologi
transendental yang dianggap lebih mampu memberikan kritik dengan lebih memahami
unsur subjektif manusia sebagai subjek maupun objek.
Komentar
Posting Komentar