Membongkar dan Membelah Tembok Kolonial Iman dengan Kasih
Demikianlah kota itu terkepung sampai tahun yang kesebelas zaman raja Zedekia. Pada tanggal sembilan bulan yang keempat, ketika kelaparan sudah merajalela di kota itu dan tidak ada lagi makanan pada rakyat negeri itu, maka dibelah oranglah tembok kota itu dan semua tentara melarikan diri malam-malam melalui pintu gerbang antara kedua tembok yang ada di dekat taman raja, sekalipun orang Kasdim mengepung kota itu sekeliling. Mereka lari menuju ke Araba-Yordan.
2Raj 25:2-4
Membaca bacaan hari ini, khususnya pada ayat yang saya kutip tersebut, saya merenungkan hidup saya satu minggu ini.
Dari bacaan pertama, terlihat bahwa terjadi penaklukan Yerusalem oleh Nebukadnezar. Namun selang 11 tahun, ketika Raja Zedekia memerintah, rakyat mulai berontak karena kelaparan; tentara mulai membelot atau ada juga yang kabur, bahkan korban mulai berjatuhan. Di sini saya melihat gambaran sebuah kolonisasi kehidupan yang total hanya dapat dilawan dalam kondisi kesadaran akan kesengsaraan dan ketiadaan harapan. Sama seperti Yesus yang melawan kolonisasi Romawi, namun dengan keberserahan dan dalam kelemahan seorang manusia. Ia mampu membuka kesadaran akan pengorbanan dan perlawanan terhadap kelaliman dengan cara yang sesungguhnya, yaitu kasih.
Satu minggu ini saya merasa waktu begitu cepat berlalu. Baru saja sepertinya saya menulis renungan KDV hari Jumat lalu, sekarang sudah menulis lagi. Saya bertanya-tanya mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi. Lebih dalam lagi, dalam kondisi apa waktu bisa terasa begitu cepat. Apakah saya tidak melakukan apa-apa seminggu ini? Rasanya tidak. Saya bekerja dari pagi hingga malam, bahkan ada pekerjaan sambilan juga. Apakah saya kurang bersyukur? Bisa iya bisa tidak, karena ini pertanyaan yang subyektif dan perlu pendalaman. Apakah saya kurang berdoa? Bisa jadi, karena saya memang jarang berdoa.
Namun, apakah semua itu berarti jika merujuk pada bacaan dan ayat hari ini? Menurut saya pertanyaan ini lebih penting karena apa yang tertulis dan tidak tertulis di Kitab dapat merefleksikan kehidupan kita sehari-hari. Kemudian saya merenungkan konteks zaman now yang dihingarbingari oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih. Fakta bahwa Smartphone yang saya pegang dan bawa setiap hari, mungkin jauh lebih mengenali diri saya dari pada saya sendiri, membuat saya merenungkan betapa cepatnya waktu berlalu. Jika saya ingat-ingat kembali, maka saya tersadar bahwa mungkin hampir setiap menit saya memeriksa smartphone saya, entah untuk hanya lihat medsos ataupun main game. Rasanya tidak bisa hidup tanpa smartphone. Di sisi lain, smartphone dengan cermatnya memolakan tingkah laku saya melalui tap atau klik dari jari-jemari saya, hingga kontak yang saya lakukan. Di era big data, semua tingkah laku bisa dipantau bahkan diolah menjadi produk konten yang akan dijual kembali kepada orang yang menggunakannya. Sehingga tanpa sadar saya mulai terus-menerus melihat smartphone tanpa kenal waktu, bahkan tiada hari tanpa cek medsos, dan seterusnya-dan seterusnya.
Dari sini saya mulai merenungkan, apakah hidup saya sudah terkolonisasi sedemikian rupa oleh smartphone ataupun media digital lainnya? Apakah saya tidak dapat menikmati waktu karena saya keterhubungan tanpa jeda antara diri saya dengan smartphone dan media digital lain? Bacaan hari ini begitu menggugah saya. Bukan dalam kenyataan bahwa "Smartphone Nebukadnezar" telah mengkolonisasi saya sedari pikiran dan perilaku kehidupan, melainkan bahwa ada kemungkinan untuk melawan kolonisasi ini. Mungkin perlu suatu kondisi di mana saya tidak punya koneksi internet lagi misalnya, atau saya dalam keadaan tidak berdaya lagi sehingga tidak mampu pegang smartphone misalnya. Atau ada alternatif lain yang menarik dari ayat hari ini: dengan merobohkan dan membelah tembok-tembok yang ada. Tembok apa itu masih menjadi misteri bagi saya. Namun satu yang pasti, disposisi batin di mana kita tanpa pengharapan itulah yang menjadi kunci sebenarnya, orang-orang Yerusalem mampu melawan kolonisasi tersebut. Rakyat Yerusalem tidak punya pilihan selain melawan. Di sinilah ketika tidak ada pilihan, justru pilihan yang lahir dari imajinasi perlawanan yang muncul dan seketika memberikan jalan pembebasan.
Dengan demikian, bagi saya ayat hari ini menjadi pengingat bagi saya, bahwa selama satu minggu ini saya diberikan pencerahan mengenai kolonisasi smartphone yang sedemikian rupa membuyarkan persepesi saya tentang waktu dan bagaimana membelah dan membongkarnya, meskipun saya harus mencari tahu lebih dalam dan lebih luas lagi mengenai upaya tersebut.
Doa
Ya Yesus Kristus sang pembebas dari penjajahan dalam bentuk apapun, nyalakanlah dalam hatiku sebuah semangat untuk membongkar dan membelah tembok-tembok pemisah antara diriku dengan diri-Mu yang adalah kasih yang sesungguhnya.
Amin.
Antonius Semmy Tyar Armandha
2Raj 25:2-4
Membaca bacaan hari ini, khususnya pada ayat yang saya kutip tersebut, saya merenungkan hidup saya satu minggu ini.
Dari bacaan pertama, terlihat bahwa terjadi penaklukan Yerusalem oleh Nebukadnezar. Namun selang 11 tahun, ketika Raja Zedekia memerintah, rakyat mulai berontak karena kelaparan; tentara mulai membelot atau ada juga yang kabur, bahkan korban mulai berjatuhan. Di sini saya melihat gambaran sebuah kolonisasi kehidupan yang total hanya dapat dilawan dalam kondisi kesadaran akan kesengsaraan dan ketiadaan harapan. Sama seperti Yesus yang melawan kolonisasi Romawi, namun dengan keberserahan dan dalam kelemahan seorang manusia. Ia mampu membuka kesadaran akan pengorbanan dan perlawanan terhadap kelaliman dengan cara yang sesungguhnya, yaitu kasih.
Satu minggu ini saya merasa waktu begitu cepat berlalu. Baru saja sepertinya saya menulis renungan KDV hari Jumat lalu, sekarang sudah menulis lagi. Saya bertanya-tanya mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi. Lebih dalam lagi, dalam kondisi apa waktu bisa terasa begitu cepat. Apakah saya tidak melakukan apa-apa seminggu ini? Rasanya tidak. Saya bekerja dari pagi hingga malam, bahkan ada pekerjaan sambilan juga. Apakah saya kurang bersyukur? Bisa iya bisa tidak, karena ini pertanyaan yang subyektif dan perlu pendalaman. Apakah saya kurang berdoa? Bisa jadi, karena saya memang jarang berdoa.
Namun, apakah semua itu berarti jika merujuk pada bacaan dan ayat hari ini? Menurut saya pertanyaan ini lebih penting karena apa yang tertulis dan tidak tertulis di Kitab dapat merefleksikan kehidupan kita sehari-hari. Kemudian saya merenungkan konteks zaman now yang dihingarbingari oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih. Fakta bahwa Smartphone yang saya pegang dan bawa setiap hari, mungkin jauh lebih mengenali diri saya dari pada saya sendiri, membuat saya merenungkan betapa cepatnya waktu berlalu. Jika saya ingat-ingat kembali, maka saya tersadar bahwa mungkin hampir setiap menit saya memeriksa smartphone saya, entah untuk hanya lihat medsos ataupun main game. Rasanya tidak bisa hidup tanpa smartphone. Di sisi lain, smartphone dengan cermatnya memolakan tingkah laku saya melalui tap atau klik dari jari-jemari saya, hingga kontak yang saya lakukan. Di era big data, semua tingkah laku bisa dipantau bahkan diolah menjadi produk konten yang akan dijual kembali kepada orang yang menggunakannya. Sehingga tanpa sadar saya mulai terus-menerus melihat smartphone tanpa kenal waktu, bahkan tiada hari tanpa cek medsos, dan seterusnya-dan seterusnya.
Dari sini saya mulai merenungkan, apakah hidup saya sudah terkolonisasi sedemikian rupa oleh smartphone ataupun media digital lainnya? Apakah saya tidak dapat menikmati waktu karena saya keterhubungan tanpa jeda antara diri saya dengan smartphone dan media digital lain? Bacaan hari ini begitu menggugah saya. Bukan dalam kenyataan bahwa "Smartphone Nebukadnezar" telah mengkolonisasi saya sedari pikiran dan perilaku kehidupan, melainkan bahwa ada kemungkinan untuk melawan kolonisasi ini. Mungkin perlu suatu kondisi di mana saya tidak punya koneksi internet lagi misalnya, atau saya dalam keadaan tidak berdaya lagi sehingga tidak mampu pegang smartphone misalnya. Atau ada alternatif lain yang menarik dari ayat hari ini: dengan merobohkan dan membelah tembok-tembok yang ada. Tembok apa itu masih menjadi misteri bagi saya. Namun satu yang pasti, disposisi batin di mana kita tanpa pengharapan itulah yang menjadi kunci sebenarnya, orang-orang Yerusalem mampu melawan kolonisasi tersebut. Rakyat Yerusalem tidak punya pilihan selain melawan. Di sinilah ketika tidak ada pilihan, justru pilihan yang lahir dari imajinasi perlawanan yang muncul dan seketika memberikan jalan pembebasan.
Dengan demikian, bagi saya ayat hari ini menjadi pengingat bagi saya, bahwa selama satu minggu ini saya diberikan pencerahan mengenai kolonisasi smartphone yang sedemikian rupa membuyarkan persepesi saya tentang waktu dan bagaimana membelah dan membongkarnya, meskipun saya harus mencari tahu lebih dalam dan lebih luas lagi mengenai upaya tersebut.
Doa
Ya Yesus Kristus sang pembebas dari penjajahan dalam bentuk apapun, nyalakanlah dalam hatiku sebuah semangat untuk membongkar dan membelah tembok-tembok pemisah antara diriku dengan diri-Mu yang adalah kasih yang sesungguhnya.
Amin.
Antonius Semmy Tyar Armandha
Komentar
Posting Komentar