Batu Penjuru Kehidupan
Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Mat 21:42
Kisah Yusuf anak Israel, adalah kisah yang sangat berkesan bagi saya. Kisah ini bagaikan batu penjuru bagi hidup saya, karena kisah inilah yang mengangkat saya keluar dari kesedihan hidup.
Pada saat saya merenungi kesedihan itu, kondisi keimanan saya sedang dalam keburukan pula. Kehidupan iman saya hanya formalitas. Pada saat itu saya mendengar di Youtube, kotbah seorang pendeta yang mengangkat cerita Yusuf. Saya memang sebelumnya sangat mengagumi Yusuf yang berhasil menguasai Mesir dengan bakatnya membaca mimpi, dan di usia yang muda pula. Saya memang selalu membayangkan bisa menjadi Yusuf yang di usia mudanya bisa sebegitu cemerlang.
Namun perspektif saya berubah setelah mendengar kotbah tersebut. Saya kemudian diberi pencerahan, bahwa ada sisi lain yang membuat Yusuf begitu cemerlang. Di samping segala kemegahannya, di usia muda namun sudah menjadi setara raja, ternyata ada karakternya yang jauh lebih mulia daripada sekedar kemegahannya. Yaitu bahwa Yusuf tidak sedikit pun kepahitan karena dijual oleh kakak-kakaknya! Ia menyambut dengan haru sekaligus gembira ketika kakak-kakaknya datang ke Mesir. Padahal jika melihat konteks zaman, seharusnya ia sudah menghukum mati kakak-kakanya yang telah sengaja hampir membunuh dan kemudian menjualnya.
Betapa bertambah kagumnya saya terhadap Yusuf, tapi bukan lagi karena kemegahannya, melainkan karena Yusuf seakan memiliki hati yang bebas sakit hati. Dan itu menurut saya itu adalah kekuatan paling besar yang bisa dimiliki oleh seorang manusia. Saya, yang pada saat itu sedih karena disakiti dan merasa diri tidak lagi berharga, menjadi bersemangat kembali dan bertekad untuk menjadi seperti Yusuf. Saya yang semula berambisi untuk menjadi yang nomor satu selagi masih muda, menjadi berambisi untuk memiliki hati selapang hati Yusuf. Semenjak saat itu, saya semakin ingin untuk melatih hati saya dan pikiran saya selayaknya Yusuf mengampuni dan memimpin Mesir dengan segala kebijaksanaannya.
Uniknya, di salah satu komunitas pelayanan yang saya geluti, saya diberi panggilan "Yusuf" oleh koordinator, karena menjadi yang termuda di komunitas pelayanan itu. Hal ini membuat saya semakin ingin menjadi seperti Yusuf yang penuh hikmat dan kesabaran, meski saya merasa diri saya sendiri masih jauh dari menjadi seperti Yusuf.
Yusuf, yang tadinya batu yang dibuang, telah menjadi batu penjuru. Demikian pula kita semua, selayaknya semakin menuju ke arah pembentukan menjadi batu penjuru.
Doa
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menghadirkan sosok Yusuf yang begitu berhikmat. Semoga kami bisa menjadi seperti Yusuf, yang berhasil menjadi batu penjuru padahal tadinya hanya batu yang dibuang
Amin
Antonius Semmy Tyar Armandha
Kisah Yusuf anak Israel, adalah kisah yang sangat berkesan bagi saya. Kisah ini bagaikan batu penjuru bagi hidup saya, karena kisah inilah yang mengangkat saya keluar dari kesedihan hidup.
Pada saat saya merenungi kesedihan itu, kondisi keimanan saya sedang dalam keburukan pula. Kehidupan iman saya hanya formalitas. Pada saat itu saya mendengar di Youtube, kotbah seorang pendeta yang mengangkat cerita Yusuf. Saya memang sebelumnya sangat mengagumi Yusuf yang berhasil menguasai Mesir dengan bakatnya membaca mimpi, dan di usia yang muda pula. Saya memang selalu membayangkan bisa menjadi Yusuf yang di usia mudanya bisa sebegitu cemerlang.
Namun perspektif saya berubah setelah mendengar kotbah tersebut. Saya kemudian diberi pencerahan, bahwa ada sisi lain yang membuat Yusuf begitu cemerlang. Di samping segala kemegahannya, di usia muda namun sudah menjadi setara raja, ternyata ada karakternya yang jauh lebih mulia daripada sekedar kemegahannya. Yaitu bahwa Yusuf tidak sedikit pun kepahitan karena dijual oleh kakak-kakaknya! Ia menyambut dengan haru sekaligus gembira ketika kakak-kakaknya datang ke Mesir. Padahal jika melihat konteks zaman, seharusnya ia sudah menghukum mati kakak-kakanya yang telah sengaja hampir membunuh dan kemudian menjualnya.
Betapa bertambah kagumnya saya terhadap Yusuf, tapi bukan lagi karena kemegahannya, melainkan karena Yusuf seakan memiliki hati yang bebas sakit hati. Dan itu menurut saya itu adalah kekuatan paling besar yang bisa dimiliki oleh seorang manusia. Saya, yang pada saat itu sedih karena disakiti dan merasa diri tidak lagi berharga, menjadi bersemangat kembali dan bertekad untuk menjadi seperti Yusuf. Saya yang semula berambisi untuk menjadi yang nomor satu selagi masih muda, menjadi berambisi untuk memiliki hati selapang hati Yusuf. Semenjak saat itu, saya semakin ingin untuk melatih hati saya dan pikiran saya selayaknya Yusuf mengampuni dan memimpin Mesir dengan segala kebijaksanaannya.
Uniknya, di salah satu komunitas pelayanan yang saya geluti, saya diberi panggilan "Yusuf" oleh koordinator, karena menjadi yang termuda di komunitas pelayanan itu. Hal ini membuat saya semakin ingin menjadi seperti Yusuf yang penuh hikmat dan kesabaran, meski saya merasa diri saya sendiri masih jauh dari menjadi seperti Yusuf.
Yusuf, yang tadinya batu yang dibuang, telah menjadi batu penjuru. Demikian pula kita semua, selayaknya semakin menuju ke arah pembentukan menjadi batu penjuru.
Doa
Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menghadirkan sosok Yusuf yang begitu berhikmat. Semoga kami bisa menjadi seperti Yusuf, yang berhasil menjadi batu penjuru padahal tadinya hanya batu yang dibuang
Amin
Antonius Semmy Tyar Armandha
Komentar
Posting Komentar