Karakter sebagai jembatan antara Iman dan Perbuatan
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Yak 2:20
Ayat di atas selalu membuat saya malu dan merenungi kehidupan yang telah saya jalani selama ini. Hal ini karena seringkali iman saya tidak berbuah pada perbuatan, dan perbuatan saya tidak berasal dari iman. Barangkali jika Paulus bertanya hal yang sama langsung kepada saya, jawabannya sudah pasti nihil. Karena jika saya menjawab “ya saya mengakui”, darimana saya bisa menjawab itu, padahal iman dan perbuatan saya tidak selaras? Saya mengakui tapi dalam praktiknya saya tidak melaksanakannya. Jika saya menjawab “tidak, saya tidak mengakui”, saya juga membohongi diri saya sendiri.
Lantas, saya selalu bertanya mengapa selalu ada gap antara iman saya dan perbuatan saya? Saya melakukan pembenaran terhadap perbuatan-perbuatan saya yang salah. Saya mencari alasan terhadap apa seharusnya saya lakukan, namun tidak saya lakukan. Saya sering melawan suara hati saya sendiri. Jika ditelusuri, banyak sekali suara hati yang saya abaikan demi suatu pembenaran. Biar mudah, biar cepat, biar enak, biar nyaman, dan seterusnya yang sifatnya jangka pendek. Saya sering menunda-nunda pekerjaan yang harusnya bisa saya kerjakan sedikit-demi sedikit. Saya juga sering mengabaikan saran dan kritik yang membangun dari orang-orang sekitar. Singkat kata, saya merasa paling benar, padahal yang saya lakukan hanya pembenaran semata, bukan kebenaran.
Kisah Petrus Damianus yang diperingati hari ini, menginspirasi saya, bahwa untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini melayani, tidak boleh setengah-setengah. Petrus tidak pernah melakukan pembenaran sebagai alasan untuk tujuan jangka pendek. Petrus juga tidak meremehkan orang-orang di sekitarnya yang membantunya. Bahkan ia tidak menganggap dirinya yang paling benar walaupun dipandang sebagai Pujangga Gereja.
Menurut saya hal ini karena Petrus punya karakter. Petrus punya pendirian. Ia tidak impulsif dan mau menang sendiri. Ia juga penuh dengan komitmen atas apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Petrus melakukan apa yang imani. Petrus memiliki iman dan ia perbuat apa yang ia imani. Itulah hal-hal yang selama ini tidak saya miliki.
Doa
Ya Allah Bapa, aku sadari bahwa diriku seringkali merasa beriman, namun tidak pernah melakukannya dalam perbuatan. Seringkali pula perbuatanku tidak didasarkan pada iman. Hal yang membuat diriku sangat tidak berkarakter. Ampunilah diriku Tuhan yang iman-nya mati karena nihil perbuatan. Semoga dengan inspirasi dari Petrus Damianus, aku dapat segera mengubah hidupku berdasarkan iman-ku kepada-Mu. Amin
Antonius Semmy Tyar Armandha
Ayat di atas selalu membuat saya malu dan merenungi kehidupan yang telah saya jalani selama ini. Hal ini karena seringkali iman saya tidak berbuah pada perbuatan, dan perbuatan saya tidak berasal dari iman. Barangkali jika Paulus bertanya hal yang sama langsung kepada saya, jawabannya sudah pasti nihil. Karena jika saya menjawab “ya saya mengakui”, darimana saya bisa menjawab itu, padahal iman dan perbuatan saya tidak selaras? Saya mengakui tapi dalam praktiknya saya tidak melaksanakannya. Jika saya menjawab “tidak, saya tidak mengakui”, saya juga membohongi diri saya sendiri.
Lantas, saya selalu bertanya mengapa selalu ada gap antara iman saya dan perbuatan saya? Saya melakukan pembenaran terhadap perbuatan-perbuatan saya yang salah. Saya mencari alasan terhadap apa seharusnya saya lakukan, namun tidak saya lakukan. Saya sering melawan suara hati saya sendiri. Jika ditelusuri, banyak sekali suara hati yang saya abaikan demi suatu pembenaran. Biar mudah, biar cepat, biar enak, biar nyaman, dan seterusnya yang sifatnya jangka pendek. Saya sering menunda-nunda pekerjaan yang harusnya bisa saya kerjakan sedikit-demi sedikit. Saya juga sering mengabaikan saran dan kritik yang membangun dari orang-orang sekitar. Singkat kata, saya merasa paling benar, padahal yang saya lakukan hanya pembenaran semata, bukan kebenaran.
Kisah Petrus Damianus yang diperingati hari ini, menginspirasi saya, bahwa untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini melayani, tidak boleh setengah-setengah. Petrus tidak pernah melakukan pembenaran sebagai alasan untuk tujuan jangka pendek. Petrus juga tidak meremehkan orang-orang di sekitarnya yang membantunya. Bahkan ia tidak menganggap dirinya yang paling benar walaupun dipandang sebagai Pujangga Gereja.
Menurut saya hal ini karena Petrus punya karakter. Petrus punya pendirian. Ia tidak impulsif dan mau menang sendiri. Ia juga penuh dengan komitmen atas apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Petrus melakukan apa yang imani. Petrus memiliki iman dan ia perbuat apa yang ia imani. Itulah hal-hal yang selama ini tidak saya miliki.
Doa
Ya Allah Bapa, aku sadari bahwa diriku seringkali merasa beriman, namun tidak pernah melakukannya dalam perbuatan. Seringkali pula perbuatanku tidak didasarkan pada iman. Hal yang membuat diriku sangat tidak berkarakter. Ampunilah diriku Tuhan yang iman-nya mati karena nihil perbuatan. Semoga dengan inspirasi dari Petrus Damianus, aku dapat segera mengubah hidupku berdasarkan iman-ku kepada-Mu. Amin
Antonius Semmy Tyar Armandha
Komentar
Posting Komentar