Bahagialah Sekarang Juga!

Jumat, 9 Agustus 2019

Ul 4:32-40
Mat 16:24-28

Sharing Iman
Komunitas Verbum Domini 4

Antonius Semmy Tyar Armandha

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:26)

Ayat ini begitu menyentuh saya karena sering saya bacakan kepada almarhum abang angkat saya, ketika abang sering berkeluhkesah kepada saya mengenai hidupnya. Ayat ini juga menjadi pegangan saya, setiap saya merasa kekurangan dalam hidup. Mengenai abang, ia selalu berkeluhkesah tidak bisa tidur di malam hari karena memikirkan usaha/bisnis yang ia tekuni agar bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan. Kegagalan demi kegagalan selalu menjadi topik perbincangan kita. Bahkan mungkin hal itu yang membuat sakit jantungnya bertambah parah, karena selalu memikirkan apa yang belum ia capai dalam hidupnya. Saya selalu mengatakan dengan nada tegas, “…buat apa abang punya semua harta itu kalau besoknya abang kehilangan nyawa…?” Saya yakin abang saya memahaminya, tapi tidak punya cukup waktu untuk sempat melaksanakanya. Belum sampai ia berhasil pada satu bisnis pun, Tuhan sudah memanggilnya.

Saya menjadi tertegun, merenung, kadang tertekan karena apa yang saya katakan menjadi kenyataan. Kemudian, saya refleksikan betul-betul dalam hidup saya: apa yang sudah saya capai dan apa yang belum. Sampai pada suatu hari saya melihat sebuah video di media sosial tentang doing what you love and love what you do. Dalam video itu salah satunya dipaparkan data tentang hari dimana kematian paling banyak terjadi akibat serangan jantung. Ya, hari itu adalah hari senin, ketika orang baru masuk kerja setelah libur di hari sabtu dan minggu. Saya cukup kaget (sekaligus tidak kaget), karena abang saya meninggal di hari senin karena serangan jantung. Dari data tersebut, sang motivator merefleksikannya dalam hal kemampuan orang untuk mencintai pekerjaannya/melakukan pekerjaan yang dicintai. Hanya dua hal itu sesungguhnya pilihan manusia dihadapkan pada kenyataan hidup. Bagi orang yang bisa mewujudkan bekerja di bidang yang ia cintai, maka ia beruntung. Namun, bagi orang yang tidak punya pilihan, tidak ada pilihan lain selain mencintai apa yang sudah ia capai dan sedang ia kerjakan. Hal ini betul-betul saya resapkan, bahwa cinta adalah resep untuk hidup bahagia, dan bahagia baru betul-betul dapat tercapai apabila ada cinta, dan itu harus dilakukan di setiap detik kehidupan kita, karena kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan memanggil.

Apa yang saya capai dalam hidup tentu belum sepenuhnya saya dapatkan. Namun saya mencintai pekerjaan saat ini yang dapat dikatakan match dengan pendidikan yang saya tempuh, meskipun dari sisi kesejahteraan masih pas-pasan. Di sisi lain, Tuhan Yesus melalui ayat hari ini, memberikan penghiburan sekaligus tantangan bagi saya. Beranikah saya untuk mengambil resiko kehilangan nyawa demi Dia? Melalui pelayanan, apakah saya sudah cukup untuk mengikut Ia, menyangkali diri, memikul salib saya sendiri? Seringkali saya cengeng dalam pelayanan, hanya mau ambil pelayanan yang mudah dan beresiko rendah. Dalam pekerjaan juga, saya masih banyak menunda-nunda untuk meningkatkan skill dan produk. Saya masih sering perhitungan dengan Tuhan. Saya mengeluh lelah dan sakit, tetapi tidak pernah berusaha memahami apa arti segala kesulitan dan kehingarbingaran kegiatan sehari-hari. Hari ini Yesus seperti mau mengajak saya untuk segera meninggalkan kebiasaan lama, dan bergerak maju untuk betul-betul mengikuti-Nya.

Doa

Ya Allah, sungguh besar kuasa-Mu dalam hidupku, sehingga sabda-Mu hari ini sungguh menguatkanku. Ya Tuhan Yesus, aku sangat lemah dan tidak berdaya jika harus menyangkal diri dan memikul salib sendirian. Berikanlah aku kekuatan ya Roh Kudus, untuk senantiasa berani berkorban demi pelayanan-pelayanan terhadap sesama. Semoga ke depan aku semakin berani melayani-Mu dengan cinta yang penuh dalam hati.
Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem