BERGELIMANG LUMPUR MISI: Sebuah refleksi dan sharing Kursus Misiologi KKM KWI 2018

“Sebab sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (Kor 13:12)

          Memasuki era industrialisasi 4.0[1] kehidupan manusia di satu sisi semakin dimudahkan, namun di sisi lain semakin diceraiberaikan dalam jurang ketimpangan sosial dan ekonomi. Ketimpangan sosial dan ekonomi yang sarat dalam kapitalisme, bertransformasi seiring perkembangan teknologi yang ditawarkan dalam indusrialisasi 4.0. Kapitalisme menjadi sebuah tirani yang melebarkan ketimpangan tersebut, dan Gereja harus menyadarinya untuk bertransformasi pula menyesuaikan kondisi.[2] Ajakan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk kita agar berani “mengotori sepatu” di tengah “kubangan” realita sosial dan tugas Gereja sangatlah urgen mengingat pengaruh tanda-tanda zaman.[3] Saat ini percepatan produksi kebutuhan dan peringkasan interaksi antar masyarakat di dunia menjadi tidak terelakan. Manusia semakin bersandar pada perkembangan teknologi yang memungkinkan segala proses pemenuhan kebutuhan hidup mulai dari yang fisik sampai kepada aktualisasi diri. Manusia semakin menyandarkan penerimaan penghargaan diri pada yang teknologis, seperti diakui di sosial media dan berbagai sumber artifisial lain.
          Kursus misiologi yang diadakan oleh Komisi Karya Misioner KWI dan KAJ, dan Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) bagaikan oase di tengah-tengah padang gurun kering Jakarta yang dipenuhi hiruk-pikuk kesibukan pekerja-pekerja, di mana kehidupan dituntut berjalan dengan sangat cepat lebih daripada di daerah lain. Dalam kondisi tersebut, menjalankan sebuah misi perutusan menjadi sebuah tantangan tersendiri yang dalam hemat saya tidak dapat disamaratakan dengan menjalankan misi di daerah lain, ataupun misi yang secara umum kita terima sebagai model utama. Ibukota Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan sekaligus pusat ekonomi di Indonesia, menuntut manusia-manusianya menjalankan kehidupan yang penuh tuntutan akan persaingan. Persaingan menuntut manusia melakukan segala sesuatunya lebih cepat daripada pesaingnya. Alhasil, manusia harus bekerjakeras dari pagi sampai malam, atau, manusia harus berlomba menghasilkan kemuktahiran; bagaimana memproses pemenuhan kebutuhan secara cepat. Menjalankan misi pengutusan dalam kondisi tersebut tentu terlihat sulit. Kursus Misiologi membuat umat beriman semakin memandang misi sebagai suatu kebutuhan, sehingga tidak terlihat sulit.
Tulisan ini adalah refleksi saya setelah mengikuti Kursus Misiologi. Tulisan ini akan saya bagi menjadi dua bagian. Bagian Pertama akan membahas apa yang saya dapatkan dari Kursus Misiologi. Saya akan memadukan pengetahuan yang saya miliki sebelum mengikuti kursus dengan materi-materi yang didapatkan dalam kursus. Saya menggabungkan pemahaman saya akan realita masyarakat dengan panggilan misi yang relevan. Pembahasan ini lantas akan berhubungan dengan Bagian Kedua. Pada Bagian Kedua akan dibahas langkah misi apa yang akan diambil setelah Kursus Misiologi. Pemahaman yang saya miliki mengenai masyarakat adalah salah satu bagian dari talenta yang saya miliki. Profesi yang saya tekuni, yang di dalamnya talenta saya digunakan, akan menentukan arah misi yang akan saya lakukan ke depan.


Apa yang saya didapatkan dari Kursus Misiologi
          Latar belakang pemikiran saya akan kondisi dunia masa kini, mengamini bahwa kemiskinan adalah hal utama yang menjadi penyebab berbagai permasalahan di dunia. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, tidak hanya merupakan pangkal dari permasalahan tersebut, namun justru menjadi struktur yang dipelihara. Hal ini yang diserukan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium. Bapa suci menyerukan gerakan politik untuk mengatasi penyebab kemiskinan yang bersifat struktural, dimana ketimpangan adalah akar dari penyakit-penyakit sosial kemasyarakatan [EG. 202]. Dengan kata lain, ketimpangan dan kemiskinan adalah suatu kondisi yang dimungkinkan oleh struktur. Struktur dalam konteks sosial, adalah konsep perumusan asas hubungan antarindividu dalam kehidupan masyarakat yang merupakan pedoman bagi tingkah laku individu.[4] Tingkah laku individu ditentukan oleh struktur. Bapa Suci menekankan hal ini dengan tingkat keseriusan yang tinggi dengan menyebut gerakan politik untuk mengatasinya sebagai yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Artinya kesenjangan bukan lagi masalah, tetapi justru kondisi yang inheren dan merupakan alat bagi yang berkuasa dan bermodal untuk memegang kendali atas dunia ini. Hal ini berarti telah terjadi penindasan sistemik terhadap masyarakat miskin yang didominasi oleh masyarakat pekerja. Penindasan sistemik ini didorong oleh krisis ekonomi yang siklikal, yang mendorong pula konflik identitas. Sayangnya hal ini tanpa disadari tertutup oleh gegap gempita kemajuan teknologi. Masyarakat kelas menengah yang seharusnya terdidik dan menjadi masyarakat yang kritis terhadap penindasan sistemik, menjadi buta karena politik pengalihan dengan modus informasi khususnya di internet. Berseliwerannya hoax dan diskursus yang direproduksi kekuasaan, membuat masyarakat tidak bisa melihat masalah yang lebih dalam dari sekedar pilihan politik. Eksesnya, politik saat ini membuat kita semakin impulsif[5] dan implosif[6].
           Struktur yang menopang kemiskinan dan ketimpangan, tidak lain adalah struktur ekonomi politik global saat ini. Mekanisme pasar ditambah dengan regulasi negara-negara besar membuat kaum miskin semakin terjepit. Kerentanan sistem pasar tetap dipertahankan mengingat keuntungan yang didapat sungguh besar. Beberapa kali krisis di era sistem ekonomi modern, mulai dari krisis tahun 30-an, krisis tahun 70-an yang menandai lahirnya neoliberalisme, krisis 1998 di Asia, dan krisis global 2008, menunjukan bahwa rakyat miskin tidaklah berarti di mata para pengusaha dan penguasa. Masuknya China dalam pusaran persaingan ekonomi negara-negara maju, membuat negara adidaya Amerika Serikat menerapkan berbagai kebijakan untuk menahan dampak lajunya ekonomi China secara masif. Perang dagang antar keduanya tidak terelakan dan menghimpit beberapa negara di Asia yang nilai tukar mata uang nasionalnya terdegradasi.
          Konflik identitas yang lahir atas reaksi superioritas negara-negara adidaya tersebut tidak kalah jahat. Munculnya gerakan ekstremis seperti terorisme, di dalamnya dibungkus dengan sentimen agama. Reaksi intervensionis yang dilakukan negara-negara kuat dengan memborbardir markas-markas ekstremis, malah justru menimbulkan kekelaman dan kesedihan. Hancurnya peradabaan di kawasan Timur Tengah akibat konflik berkepanjangan, seperti menciptakan rantai konflik yang tidak terputus. Gelombang migrasi korban konflik ke negara-negara yang relatif aman, malah justru menimbulkan penolakan. Puncaknya, kebijakan Amerika Serikat yang melarang imigran, diikuti oleh negara-negara lain seperti yang ada di  kawasan Uni Eropa.
          Di tengah-tengah kondisi tersebut, mari kita melihat apa yang terjadi di Indonesia. Politik identitas yang tengah dimainkan oleh para elit, menurut saya menyeret masyarakat ke dalam jurang konflik horizontal yang akarnya hanya kepentingan politik semata. Kondisi dunia yang sarat ketimpangan dan konflik malah justru menyurupi Indonesia dan bukan malah justru membuat kita rakyatnya menawarkan solusi kepada dunia. Hal ini tidak lain karena Indonesia sendiri telah ikut dalam struktur besar yang mengakari ketimpangan dan konflik tersebut. Sistem ekonomi yang neoliberal: cenderung berpihak pada pasar dan pemilik modal; dan primordialisme akut masyarakat:cenderung mudah tersulut isu identitas, merupakan bukti bahwa Indonesia tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri. Oleh karenanya, saya melihat adanya pola perilaku politik yang impulsif masyarakat dalam menanggapi provokasi identitas, serta pola kehidupan sosial yang implosif, dimana masyarakat di-ninabobo-kan oleh perkembangan teknologi dan persaingan ekonomi yang tanpa batas.
          Oleh karena misi adalah prakarsa-prakarsa khusus, yang ditempuh oleh para pewarta Injil utusan Gereja dengan pergi ke seluruh dunia untuk menunaikan tugas menyiarkan Injil dan menanamkan Gereja di antara para bangsa atau golongan-golongan yang belum beriman akan Kristus[7], maka Gereja memiliki kepentingan pula untuk menciptakan kondisi yang sesuai dengan pewartaan Injil. Sukacita mewartakan Injil, bagi Bapa Suci Paus Fransiskus, adalah menanamkan Gereja yang mau bergelimang dalam lumpur. Yang dimaksud dengan lumpur di sini adalah Gereja harus berpraksis dalam kehidupan sehari-hari umatnya. Permasalahan umat yang paling mendasar sekalipun, adalah permasalahan Gereja pula.[8] Gereja harus merelakan “sepatunya” untuk kotor dalam lumpur kemiskinan, tidak hanya untuk menjadi miskin juga melainkan berada di tengah-tengah masyarakat untuk melawan ketidakadilan. Tentu teladan dari Yesus Kristus yang mau menderita bersama-sama umatnya dengan menjadi manusia, adalah teladan utama yang harus dipraktikan oleh Gereja.
          Dari seruan apostolik Bapa Suci, menurut saya dapat direfleksikan dua hal. Pertama, misi haruslah dilakukan dengan menyentuh pada persoalan-persoalan sosial konkrit. Kedua, tindakan politis harus segera diambil untuk menyentuh hal-hal yang sosial tersebut. Oleh karenanya, sebuah misi haruslah betul-betul didasari oleh konteks sosial dan politik masyarakat saat ini. David Bosch dalam bukunya Transformasi Misi Kristen, berpendapat bahwa misi di zaman modern dilakukan dengan mencakup segala aspek kehidupan.[9] Menurut Bosch, misi di era kontemporer (1990-an) tidaklah lagi berkonotasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan misionaris untuk mengkristenkan suatu masyarakat dalam satu teritori, serta menanamkan Gereja.[10] Misi, yang sebelumnya dipatok harus dilakukan misionaris dengan tujuannya menanamkan Gereja, menjadi misi yang dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.
          Gereja dengan misinya tidak lagi mengkristenkan atau membaptis orang per se. Menurut Romo Carolus dalam materinya Misi dan Budaya, budaya setempat di mana misi ditujukan tidak harus dihilangkan demi melakukan penginjilan.[11] Budaya sendiri adalah salah satu bentuk dari bahasa yang memiliki makna. Bahasa bersifat communio yang artinya alat untuk persatuan dan mempersatukan. Menurut Aristoteles, bahasa mempersatukan, karena disepakati bersama berdasarkan gambaran batin yang dimiliki. Dengan kata lain, budaya adalah cara suatu masyarakat agar terdapat sistem sosial yang dirasa memenuhi rasa keadilan, dan berdasarkan persaudaraan. Dalam hal ini, misi dapat berperan sebagai garam dan terang. Menyampaikan kebenaran Firman Allah, tanpa harus menghilangkan bahasa sebagai communio dan budaya sebagai hasil dialektika bahasa. Hal ini karena misi dapat masuk ke dalam  budaya tertentu melalui dialektika bahasa. Bahasa pada dasarnya bersifat dialektis yang artinya merupakan hasil dari dialog dua orang yang bersahabat untuk mendapatkan kebenaran. Dengan demikian misi harus menjadi sahabat yang menjalin dialog dengan budaya setempat.

Langkah misi apa yang akan diambil setelah Kursus Misiologi          
          Misi terus bertransformasi dari zaman ke zaman dan senantiasa memperbaharui dirinya sesuai tanda-tanda zaman (ecclesia semper reformanda). Transformasi adalah kata kunci bagi Gereja untuk bertahan, dan telah menjadi suatu tema yang kerap kali diulang-ulang selama jabatan Paus.[12] Realita tersebut tidak dapat dihindarkan  karena terjadi sejak Gereja perdana lahir, bahkan menentukan bentuk Gereja perdana. Dalam Misi Perjanjian Baru, Yesus sebagai utusan Allah menyatakan bahwa siapa yang menyambut Dia, menyambut pula Allah yang mengutus-Nya (Mrk 9:37). Kemudian Yesus mengutus murid-murid-Nya para rasul (Yoh 20:21-22) dengan penyertaan Roh Kudus. Misi pada awalnya hanya dilakukan kepada orang Yahudi, namun ketika Paulus terpanggil, misi dilakukan kepada segala bangsa (Kis 13-15). Pada era modern (atau posmodern), misi menjadi semakin kompleks dan membutuhkan perlibatan umat di segala aspek kehidupan. Misi juga harus berhadapan dengan kondisi-kondisi struktural masa kini yang sarat ketimpangan dan politik kotor yang hanya mementingkan kekuasaan.
          Menjalankan misi perutusan adalah menjalani hidup yang keluar dari zona nyaman. Menurut Uskup Romero, misi berarti ‘.. keluar dari’, ‘diutus ke luar’, ‘beralih dari diri sendiri’, ‘kemapanan diri’.[13] Dari realita struktural masa kini, berarti terdapat suatu kebutuhan -seperti yang diserukan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus- suatu kebutuhan akan gerakan politik yang mau memperjuangkan kepentingan orang-orang miskin. Yesus sendiri dalam strategi misinya, memberi perhatian pada kelompok-kelompok yang tersingkirkan (Mrk 2:16; Luk 15-1-2).[14] Yesus datang ke dunia bukan untuk orang benar, melainkan orang berdosa (Mrk 2:17), dan menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (Luk 4:18). Keluar dari diri sendiri yang sedang berada dalam zona kemapanan, dengan demikian adalah keluar untuk memperjuangkan orang miskin dengan terus menerus mengkampanyekan perubahan struktural. Perubahan dari sistem ekonomi, sistem hukum, dan sistem politik yang sarat ketimpangan.
          Keharusan bagi Gereja untuk bertransformasi tersebutlah yang membuat saya tertarik untuk memilih jalan misi saya sendiri dengan bekal spiritualitas misioner. Seperti Paulus, seorang misionaris yang mengubah dan memulai konsep misi yang baru: dari pedalaman ke perkotaan, dari eksklusivisme kepada inklusivisme, dari patrialisme kepada universalisme; talenta yang saya miliki harus saya gunakan untuk merefleksikan terus-menerus misi berdasarkan kondisi-kondisi sosial masyarakat yang aktual. Spiritualitas misioner yang mendorong saya, berkaca pada penggambaran kondisi tersebut, adalah spiritualitas masyarakat. Spiritualitas dalam arti umum adalah disposisi mental dan komitmen personal yang dibentuk oleh konstelasi nilai dan makna, produk gambaran dunia tertentu.[15] Menurut David Ray Griffin, spiritualitas tidak harus memiliki konotasi yang mengarah ke sesuatu di luar dunia ini atau mengimplikasikan bentuk disipilin religius tertentu, melainkan menunjuk pada nilai dan makna dasar yang melandasi hidup kita, baik duniawi maupun yang tidak duniawi. Spiritualitas yang ingin saya bangun, adalah spiritualitas masyarakat yang dimulai dari praksis atau iman yang dialami dalam sejarah konkret tertentu.[16] Spiritualitas masyarakat, dengan dengan demikian, melakukan aktivitas-aktivitas yang secara terus-menerus memberikan kepada Gereja kepekaan akan tanda-tanda zaman yang realistis.
Secara garis besar, perjumpaan yang saya dapatkan dari Kursus Misiologi sungguh merupakan pemahaman akan misi di era di mana manusia penuh dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup materinya secara cepat, dihadapkan pada kenyataan perkembangan teknologi yang pesat dalam dua konteks utama. Di sinilah saya merasa misi perlu dibangun atas kesadaran bahwa umat manusia kini berada di zaman hipermodern: zaman yang penuh dengan akselarasi di segala lini kehidupan. Di saat keseharian pekerjaan saya yang menuntut full time waktu saya didedikasikan untuk pekerjaan dan pencarian materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya menemukan secercah sinar kebaikan dan kasih Kristus melalui Kursus Misiologi ini. Selain menemukannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, saya juga menemukan dalam konteks talenta saya. Dari sini saya menyadari, bahwa inilah yang menjadi motivasi utama saya pada awalnya untuk mengikuti Kursus Misiologi: mencari tahu apa yang ada dalam alam pikiran Gereja Katolik mengenai realitas sosial. Di sisi lain, ini yang menjadi pergumulan saya dalam keseharian pula; apakah saya akan tenggelam dalam kubangan kebanyakan orang pencari pekerjaan untuk kekayaan semata, atau apakah saya menuruti kemana talenta yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya.
Kursus Misiologi ini membuat saya ingin secara perlahan menyadari kemendesakan untuk mencari arti dari segala sesuatu dan eksistensinya bagi Gereja.[17] Pencarian tersebut memang sulit, seperti Abraham yang dipanggil Tuhan untuk merantau ke tanah Kanaan. Abram buta sama sekali mengenai bagaimana kondisi di Kanaan, namun dengan janji Tuhan, ia dapat bertahan menghadapi berbagai ujian. Begitu juga Musa yang harus bersabar dengan umat Israel yang tegar-tengkuk di tengah perjalanan membawa Israel ke tanah terjanji. Misi mempelajari dan memproduksi keilmuan demi mencari arti dan eksistensi mungkin “tidak bisa dijual” ke siapa-siapa dan tidak memperoleh keuntungan apa-apa. Seperti Abraham yang di hari tuanya baru mendapatkan janji Tuhan, atau Musa yang tidak melihat tanah Kanaan sama sekali setelah berjuang lebih dari 40 tahun berputar di padang gurun menuntun umat Israel, itulah yang mungkin saya hadapi. Saya ingin menjadi agen bagi signum yang betul-betul merepresentasikan res, yaitu res/realita Gereja yang menyelamatkan umat manusia.

Kesimpulan
          Bagi saya Kursus Misiologi begitu mengena dalam panggilan misi pribadi saya berdasarkan pemahaman yang didapat, dan langkah misi yang ingin diambil, yaitu untuk bergelimang dalam lumpur misi Gereja Katolik sesuai dengan talenta pribadi saya. Refleksi ini akan saya simpulkan dengan Panca Tugas Gereja yang akan saya lakukan dan saya ikut sertai. Dalam tugas liturgia, saya akan meletakkan transformasi misi dalam perenungngan saya di setiap misa, persekutuan doa, ataupun kegiatan lain di Gereja, dan kegiatan yang membuat saya dapat mendalami Kitab Suci. Dalam tugas kerygma, melalui karya tulis saya akan menyebarkan kabar gembira terutama kajian transformasi masyarakat dan Gereja. Dalam koinoia, saya akan berusaha menemukan komunitas yang kurang lebih talenta-nya sama dengan saya. Suatu hari nanti saya akan meluangkan waktu untuk bergabung dalam kelas-kelas filsafat dan teologi, dan memperjuangkan misi Gereja melalui pengkajian. Secara diakonia, saya saat ini telah menjadi anggota komunitas yang secara rutin melakukan kegiatan pelayanan. Semuanya dilakukan agar suatu saat nanti, saya dapat memberikan kesaksian secara lebih luas dimanapun saya berada.




[1] Industrialisasi 4.0 adalah revolusi tahap ke-4 dalam tahapan upaya manusia untuk memproduksi kebutuhan hidupnya. Tahap pertama adalah mekanisasi produksi, tahap kedua adalah produksi massal, tahap ketiga adalah penggunaan komputer, dan tahap ketiga adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk mengotomatisasi setiap kegiatan produksi, lihat https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2018/09/02/what-is-industry-4-0-heres-a-super-easy-explanation-for-anyone/#568dbca49788
[2]Pope Francis attacks ‘tyranny’ of unfettered capitalism, ‘idolatry of money’”, https://www.cnbc.com/2013/11/26/pope-francis-attacks-tyranny-of-unfettered-capitalism-idolatory-of-money.html
[3] Tanda-tanda zaman menurut Paus Yohanes XXIII, Humanae Salutis, 1961, adalah sesuatu yang dikatakan Roh Kudus mengenai apa yang harus dilakukan oleh Gereja. dalam Chritoper Rowland, The Cambridge Companion to Liberation Theology, 1999, Cambridge University Press, hlm. 180
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, https://kbbi.web.id/struktur
[5] impulsif/im·pul·sif/ a bersifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati, lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.web.id/impulsif, diakses pada 30 September 2018. Dikatakan impulsif karena politisi bersama para pendukungnya (yang tidak lain adalah masyarakat), semakin bertindak hanya berdasarkan pada pertimbangan jangka pendek dan pragmatis. Tidak ada tawaran ide yang benar-benar idealis, yang mampu bertahan di masa kini.
[6] Implosif adalah sesuatu yang sifatnya rawan terhadap ledakan ke dalam. Kata ini mengacu pada istilah ‘implosi’ yang berarti tindakan atau aksi yang menggerakan apapun ke arah tengah atau dalam, lihat Kamus Meriam Webster, https://www.merriam-webster.com/dictionary/implosion. Istilah implosi digunakan untuk menjelaskan dampak dari dominasi waktu atas ruang (Paul Virilio), atau dominasi simulasi atas realitas (Jean Baudrillard). Sederhananya, kehidupan manusia sebetulnya memiliki natur percepatan yang di satu titik tidak bisa dilampaui lagi terutama dengan rekayasa-rekayasa manusia (biasanya dengan teknologi), jika tidak, maka akan terjadi implosi atau ledakan ke dalam (lawan dari eksplosi) seperti adanya disinformasi dan kekacauan (chaos) ataupun krisis multidimensi dan kemerosotan moral.
[7] Ad Gentes nomor 6
[8] R.F. Bhanu Viktorahadi, Pr, Menjadi Gereja yang Bergelimang Lumpur: Telaah Singkat Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium, 2015, Penerbit PT Kanisius
[9] Salah satu bahan paparan pada Kursus Misiologi Pertemuan VII dengan tema Model-model Misi dalam Abad Modern, oleh Rm. Fransiskus Sule, CICM, 5 September 2018.
[10] David J. Bosch, Transforming Mission: paradigm shifts in theology of mission, 1991, New York: Orbis Books, hlm. 1
[11] RD Carolus Putranto, Bahasa, budaya, dan Misi
[12] Evangelii Nuntiandi nomor 3
[13] RD Wisnu Wicaksono, Pr, Spiritualitas Misioner
[14] RD Vitus Rubianto S., SX, Misi dalam Perjanjian Baru
[15] David Ray Griffin, Visi-visi postmodern: Spiritualitas & masyarakat, 2005, Yogyakarta: Kanisius
[16] Seperti halnya dalam gerakan Spiritualitas/Teologi Pembebasan di Amerika Latin pada 1970-an, lihat R.F. Bhanu Viktorahadi, Pr, Menjadi Gereja yang Bergelimang Lumpur: Telaah Singkat Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium, 2015, Penerbit PT Kanisius, hlm. 20-21
[17] Fides et Ratio nomor 1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem