BERGELIMANG LUMPUR MISI: Sebuah refleksi dan sharing Kursus Misiologi KKM KWI 2018
“Sebab
sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi
nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan
tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku
sendiri dikenal” (Kor
13:12)
Memasuki era industrialisasi 4.0[1]
kehidupan manusia di satu sisi semakin dimudahkan, namun di sisi lain semakin diceraiberaikan
dalam jurang ketimpangan sosial dan ekonomi. Ketimpangan sosial dan ekonomi
yang sarat dalam kapitalisme, bertransformasi seiring perkembangan teknologi
yang ditawarkan dalam indusrialisasi 4.0. Kapitalisme menjadi sebuah tirani
yang melebarkan ketimpangan tersebut, dan Gereja harus menyadarinya untuk
bertransformasi pula menyesuaikan kondisi.[2] Ajakan
Bapa Suci Paus Fransiskus untuk kita agar berani “mengotori sepatu” di tengah
“kubangan” realita sosial dan tugas Gereja sangatlah urgen mengingat pengaruh
tanda-tanda zaman.[3]
Saat ini percepatan produksi kebutuhan dan peringkasan interaksi antar
masyarakat di dunia menjadi tidak terelakan. Manusia semakin bersandar pada
perkembangan teknologi yang memungkinkan segala proses pemenuhan kebutuhan
hidup mulai dari yang fisik sampai kepada aktualisasi diri. Manusia semakin
menyandarkan penerimaan penghargaan diri pada yang teknologis, seperti diakui
di sosial media dan berbagai sumber artifisial lain.
Kursus misiologi yang diadakan oleh
Komisi Karya Misioner KWI dan KAJ, dan Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) bagaikan
oase di tengah-tengah padang gurun kering Jakarta yang dipenuhi hiruk-pikuk
kesibukan pekerja-pekerja, di mana kehidupan dituntut berjalan dengan sangat
cepat lebih daripada di daerah lain. Dalam kondisi tersebut, menjalankan sebuah
misi perutusan menjadi sebuah tantangan tersendiri yang dalam hemat saya tidak
dapat disamaratakan dengan menjalankan misi di daerah lain, ataupun misi yang
secara umum kita terima sebagai model utama. Ibukota Jakarta sebagai pusat
pemerintahan dan sekaligus pusat ekonomi di Indonesia, menuntut
manusia-manusianya menjalankan kehidupan yang penuh tuntutan akan persaingan.
Persaingan menuntut manusia melakukan segala sesuatunya lebih cepat daripada
pesaingnya. Alhasil, manusia harus bekerjakeras dari pagi sampai malam, atau,
manusia harus berlomba menghasilkan kemuktahiran; bagaimana memproses pemenuhan
kebutuhan secara cepat. Menjalankan misi pengutusan dalam kondisi tersebut
tentu terlihat sulit. Kursus Misiologi membuat umat beriman semakin memandang
misi sebagai suatu kebutuhan, sehingga tidak terlihat sulit.
Tulisan
ini adalah refleksi saya setelah mengikuti Kursus Misiologi. Tulisan ini akan
saya bagi menjadi dua bagian. Bagian Pertama akan membahas apa yang saya dapatkan dari Kursus Misiologi. Saya akan memadukan
pengetahuan yang saya miliki sebelum mengikuti kursus dengan materi-materi yang
didapatkan dalam kursus. Saya menggabungkan pemahaman saya akan realita
masyarakat dengan panggilan misi yang relevan. Pembahasan ini lantas akan
berhubungan dengan Bagian Kedua. Pada Bagian Kedua akan dibahas langkah misi apa yang akan diambil setelah
Kursus Misiologi. Pemahaman yang saya miliki mengenai masyarakat adalah
salah satu bagian dari talenta yang saya miliki. Profesi yang saya tekuni, yang
di dalamnya talenta saya digunakan, akan menentukan arah misi yang akan saya
lakukan ke depan.
Apa yang saya didapatkan dari
Kursus Misiologi
Latar belakang pemikiran saya akan
kondisi dunia masa kini, mengamini bahwa kemiskinan adalah hal utama yang
menjadi penyebab berbagai permasalahan di dunia. Kesenjangan antara yang kaya
dan yang miskin, tidak hanya merupakan pangkal dari permasalahan tersebut,
namun justru menjadi struktur yang dipelihara. Hal ini yang diserukan oleh Bapa
Suci Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium. Bapa suci menyerukan gerakan
politik untuk mengatasi penyebab kemiskinan yang bersifat struktural, dimana
ketimpangan adalah akar dari penyakit-penyakit sosial kemasyarakatan [EG. 202].
Dengan kata lain, ketimpangan dan kemiskinan adalah suatu kondisi yang
dimungkinkan oleh struktur. Struktur dalam konteks sosial, adalah konsep
perumusan asas hubungan antarindividu dalam kehidupan masyarakat yang merupakan
pedoman bagi tingkah laku individu.[4] Tingkah
laku individu ditentukan oleh struktur. Bapa Suci menekankan hal ini dengan
tingkat keseriusan yang tinggi dengan menyebut gerakan politik untuk
mengatasinya sebagai yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Artinya
kesenjangan bukan lagi masalah, tetapi justru kondisi yang inheren dan
merupakan alat bagi yang berkuasa dan bermodal untuk memegang kendali atas
dunia ini. Hal ini berarti telah terjadi penindasan sistemik terhadap masyarakat
miskin yang didominasi oleh masyarakat pekerja. Penindasan sistemik ini
didorong oleh krisis ekonomi yang siklikal, yang mendorong pula konflik
identitas. Sayangnya hal ini tanpa disadari tertutup oleh gegap gempita
kemajuan teknologi. Masyarakat kelas menengah yang seharusnya terdidik dan
menjadi masyarakat yang kritis terhadap penindasan sistemik, menjadi buta
karena politik pengalihan dengan modus informasi khususnya di internet.
Berseliwerannya hoax dan diskursus
yang direproduksi kekuasaan, membuat masyarakat tidak bisa melihat masalah yang
lebih dalam dari sekedar pilihan politik. Eksesnya, politik saat ini membuat
kita semakin impulsif[5] dan
implosif[6].
Struktur yang menopang kemiskinan dan
ketimpangan, tidak lain adalah struktur ekonomi politik global saat ini.
Mekanisme pasar ditambah dengan regulasi negara-negara besar membuat kaum
miskin semakin terjepit. Kerentanan sistem pasar tetap dipertahankan mengingat
keuntungan yang didapat sungguh besar. Beberapa kali krisis di era sistem
ekonomi modern, mulai dari krisis tahun 30-an, krisis tahun 70-an yang menandai
lahirnya neoliberalisme, krisis 1998 di Asia, dan krisis global 2008,
menunjukan bahwa rakyat miskin tidaklah berarti di mata para pengusaha dan
penguasa. Masuknya China dalam pusaran persaingan ekonomi negara-negara maju,
membuat negara adidaya Amerika Serikat menerapkan berbagai kebijakan untuk
menahan dampak lajunya ekonomi China secara masif. Perang dagang antar keduanya
tidak terelakan dan menghimpit beberapa negara di Asia yang nilai tukar mata
uang nasionalnya terdegradasi.
Konflik identitas yang lahir atas
reaksi superioritas negara-negara adidaya tersebut tidak kalah jahat. Munculnya
gerakan ekstremis seperti terorisme, di dalamnya dibungkus dengan sentimen
agama. Reaksi intervensionis yang dilakukan negara-negara kuat dengan
memborbardir markas-markas ekstremis, malah justru menimbulkan kekelaman dan
kesedihan. Hancurnya peradabaan di kawasan Timur Tengah akibat konflik
berkepanjangan, seperti menciptakan rantai konflik yang tidak terputus.
Gelombang migrasi korban konflik ke negara-negara yang relatif aman, malah
justru menimbulkan penolakan. Puncaknya, kebijakan Amerika Serikat yang
melarang imigran, diikuti oleh negara-negara lain seperti yang ada di kawasan Uni Eropa.
Di tengah-tengah kondisi tersebut,
mari kita melihat apa yang terjadi di Indonesia. Politik identitas yang tengah
dimainkan oleh para elit, menurut saya menyeret masyarakat ke dalam jurang
konflik horizontal yang akarnya hanya kepentingan politik semata. Kondisi dunia
yang sarat ketimpangan dan konflik malah justru menyurupi Indonesia dan bukan
malah justru membuat kita rakyatnya menawarkan solusi kepada dunia. Hal ini
tidak lain karena Indonesia sendiri telah ikut dalam struktur besar yang
mengakari ketimpangan dan konflik tersebut. Sistem ekonomi yang neoliberal:
cenderung berpihak pada pasar dan pemilik modal; dan primordialisme akut
masyarakat:cenderung mudah tersulut isu identitas, merupakan bukti bahwa
Indonesia tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri. Oleh karenanya, saya melihat
adanya pola perilaku politik yang impulsif
masyarakat dalam menanggapi provokasi identitas, serta pola kehidupan
sosial yang implosif, dimana
masyarakat di-ninabobo-kan oleh perkembangan
teknologi dan persaingan ekonomi yang tanpa batas.
Oleh karena misi adalah prakarsa-prakarsa khusus, yang ditempuh oleh
para pewarta Injil utusan Gereja dengan pergi ke seluruh dunia untuk menunaikan
tugas menyiarkan Injil dan menanamkan Gereja di antara para bangsa atau
golongan-golongan yang belum beriman akan Kristus[7],
maka Gereja memiliki kepentingan pula untuk menciptakan kondisi yang sesuai
dengan pewartaan Injil. Sukacita mewartakan Injil, bagi Bapa Suci Paus
Fransiskus, adalah menanamkan Gereja yang mau bergelimang dalam lumpur. Yang
dimaksud dengan lumpur di sini adalah Gereja harus berpraksis dalam kehidupan
sehari-hari umatnya. Permasalahan umat yang paling mendasar sekalipun, adalah
permasalahan Gereja pula.[8] Gereja
harus merelakan “sepatunya” untuk kotor dalam lumpur kemiskinan, tidak hanya
untuk menjadi miskin juga melainkan berada di tengah-tengah masyarakat untuk
melawan ketidakadilan. Tentu teladan dari Yesus Kristus yang mau menderita
bersama-sama umatnya dengan menjadi manusia, adalah teladan utama yang harus
dipraktikan oleh Gereja.
Dari seruan apostolik Bapa Suci,
menurut saya dapat direfleksikan dua hal. Pertama, misi haruslah dilakukan
dengan menyentuh pada persoalan-persoalan sosial konkrit. Kedua, tindakan
politis harus segera diambil untuk menyentuh hal-hal yang sosial tersebut. Oleh
karenanya, sebuah misi haruslah betul-betul didasari oleh konteks sosial dan
politik masyarakat saat ini. David Bosch dalam bukunya Transformasi Misi Kristen, berpendapat bahwa misi di zaman modern
dilakukan dengan mencakup segala aspek kehidupan.[9] Menurut
Bosch, misi di era kontemporer (1990-an) tidaklah lagi berkonotasi
kegiatan-kegiatan yang dilakukan misionaris untuk mengkristenkan suatu
masyarakat dalam satu teritori, serta menanamkan Gereja.[10] Misi,
yang sebelumnya dipatok harus dilakukan misionaris dengan tujuannya menanamkan
Gereja, menjadi misi yang dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dimana
saja.
Gereja dengan misinya tidak lagi
mengkristenkan atau membaptis orang per
se. Menurut Romo Carolus dalam materinya Misi dan Budaya, budaya setempat
di mana misi ditujukan tidak harus dihilangkan demi melakukan penginjilan.[11] Budaya
sendiri adalah salah satu bentuk dari bahasa yang memiliki makna. Bahasa
bersifat communio yang artinya alat
untuk persatuan dan mempersatukan. Menurut Aristoteles, bahasa mempersatukan,
karena disepakati bersama berdasarkan gambaran batin yang dimiliki. Dengan kata
lain, budaya adalah cara suatu masyarakat agar terdapat sistem sosial yang
dirasa memenuhi rasa keadilan, dan berdasarkan persaudaraan. Dalam hal ini,
misi dapat berperan sebagai garam dan terang. Menyampaikan kebenaran Firman
Allah, tanpa harus menghilangkan bahasa sebagai communio dan budaya sebagai hasil dialektika bahasa. Hal ini karena
misi dapat masuk ke dalam budaya
tertentu melalui dialektika bahasa. Bahasa pada dasarnya bersifat dialektis
yang artinya merupakan hasil dari dialog dua orang yang bersahabat untuk
mendapatkan kebenaran. Dengan demikian misi harus menjadi sahabat yang menjalin
dialog dengan budaya setempat.
Langkah misi apa yang akan diambil
setelah Kursus Misiologi
Misi terus bertransformasi dari zaman
ke zaman dan senantiasa memperbaharui dirinya sesuai tanda-tanda zaman (ecclesia semper reformanda). Transformasi
adalah kata kunci bagi Gereja untuk bertahan, dan telah menjadi suatu tema yang
kerap kali diulang-ulang selama jabatan Paus.[12] Realita
tersebut tidak dapat dihindarkan karena
terjadi sejak Gereja perdana lahir, bahkan menentukan bentuk Gereja perdana.
Dalam Misi Perjanjian Baru, Yesus sebagai utusan Allah menyatakan bahwa siapa
yang menyambut Dia, menyambut pula Allah yang mengutus-Nya (Mrk 9:37). Kemudian
Yesus mengutus murid-murid-Nya para rasul (Yoh 20:21-22) dengan penyertaan Roh
Kudus. Misi pada awalnya hanya dilakukan kepada orang Yahudi, namun ketika
Paulus terpanggil, misi dilakukan kepada segala bangsa (Kis 13-15). Pada era
modern (atau posmodern), misi menjadi semakin kompleks dan membutuhkan
perlibatan umat di segala aspek kehidupan. Misi juga harus berhadapan dengan
kondisi-kondisi struktural masa kini yang sarat ketimpangan dan politik kotor
yang hanya mementingkan kekuasaan.
Menjalankan misi perutusan adalah
menjalani hidup yang keluar dari zona nyaman. Menurut Uskup Romero, misi berarti
‘.. keluar dari’, ‘diutus ke luar’, ‘beralih dari diri sendiri’, ‘kemapanan
diri’.[13] Dari
realita struktural masa kini, berarti terdapat suatu kebutuhan -seperti yang
diserukan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus- suatu kebutuhan akan gerakan politik
yang mau memperjuangkan kepentingan orang-orang miskin. Yesus sendiri dalam
strategi misinya, memberi perhatian pada kelompok-kelompok yang tersingkirkan
(Mrk 2:16; Luk 15-1-2).[14] Yesus
datang ke dunia bukan untuk orang benar, melainkan orang berdosa (Mrk 2:17),
dan menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (Luk 4:18). Keluar dari
diri sendiri yang sedang berada dalam zona kemapanan, dengan demikian adalah
keluar untuk memperjuangkan orang miskin dengan terus menerus mengkampanyekan
perubahan struktural. Perubahan dari sistem ekonomi, sistem hukum, dan sistem
politik yang sarat ketimpangan.
Keharusan bagi Gereja untuk
bertransformasi tersebutlah yang membuat saya tertarik untuk memilih jalan misi
saya sendiri dengan bekal spiritualitas misioner. Seperti Paulus, seorang
misionaris yang mengubah dan memulai konsep misi yang baru: dari pedalaman ke
perkotaan, dari eksklusivisme kepada inklusivisme, dari patrialisme kepada
universalisme; talenta yang saya miliki harus saya gunakan untuk merefleksikan
terus-menerus misi berdasarkan kondisi-kondisi sosial masyarakat yang aktual. Spiritualitas
misioner yang mendorong saya, berkaca pada penggambaran kondisi tersebut,
adalah spiritualitas masyarakat.
Spiritualitas dalam arti umum adalah disposisi mental dan komitmen personal
yang dibentuk oleh konstelasi nilai dan makna, produk gambaran dunia tertentu.[15] Menurut
David Ray Griffin, spiritualitas tidak harus memiliki konotasi yang mengarah ke
sesuatu di luar dunia ini atau mengimplikasikan bentuk disipilin religius tertentu,
melainkan menunjuk pada nilai dan makna dasar yang melandasi hidup kita, baik
duniawi maupun yang tidak duniawi. Spiritualitas yang ingin saya bangun, adalah
spiritualitas masyarakat yang dimulai dari praksis atau iman yang dialami dalam
sejarah konkret tertentu.[16]
Spiritualitas masyarakat, dengan dengan demikian, melakukan aktivitas-aktivitas
yang secara terus-menerus memberikan kepada Gereja kepekaan akan tanda-tanda
zaman yang realistis.
Secara
garis besar, perjumpaan yang saya dapatkan dari Kursus Misiologi sungguh
merupakan pemahaman akan misi di era di mana manusia penuh dengan tuntutan
untuk memenuhi kebutuhan hidup materinya secara cepat, dihadapkan pada
kenyataan perkembangan teknologi yang pesat dalam dua konteks utama. Di sinilah
saya merasa misi perlu dibangun atas kesadaran bahwa umat manusia kini berada
di zaman hipermodern: zaman yang penuh dengan akselarasi di segala lini
kehidupan. Di saat keseharian pekerjaan saya yang menuntut full time waktu saya didedikasikan untuk pekerjaan dan pencarian
materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya menemukan secercah sinar
kebaikan dan kasih Kristus melalui Kursus Misiologi ini. Selain menemukannya
dalam konteks kehidupan sehari-hari, saya juga menemukan dalam konteks talenta
saya. Dari sini saya menyadari, bahwa inilah yang menjadi motivasi utama saya
pada awalnya untuk mengikuti Kursus Misiologi: mencari tahu apa yang ada dalam
alam pikiran Gereja Katolik mengenai realitas sosial. Di sisi lain, ini yang
menjadi pergumulan saya dalam keseharian pula; apakah saya akan tenggelam dalam
kubangan kebanyakan orang pencari pekerjaan untuk kekayaan semata, atau apakah
saya menuruti kemana talenta yang telah dianugerahkan Tuhan kepada saya.
Kursus
Misiologi ini membuat saya ingin secara perlahan menyadari kemendesakan untuk
mencari arti dari segala sesuatu dan eksistensinya bagi Gereja.[17]
Pencarian tersebut memang sulit, seperti Abraham yang dipanggil Tuhan untuk
merantau ke tanah Kanaan. Abram buta sama sekali mengenai bagaimana kondisi di
Kanaan, namun dengan janji Tuhan, ia dapat bertahan menghadapi berbagai ujian.
Begitu juga Musa yang harus bersabar dengan umat Israel yang tegar-tengkuk di
tengah perjalanan membawa Israel ke tanah terjanji. Misi mempelajari dan
memproduksi keilmuan demi mencari arti dan eksistensi mungkin “tidak bisa
dijual” ke siapa-siapa dan tidak memperoleh keuntungan apa-apa. Seperti Abraham
yang di hari tuanya baru mendapatkan janji Tuhan, atau Musa yang tidak melihat
tanah Kanaan sama sekali setelah berjuang lebih dari 40 tahun berputar di
padang gurun menuntun umat Israel, itulah yang mungkin saya hadapi. Saya ingin
menjadi agen bagi signum yang
betul-betul merepresentasikan res,
yaitu res/realita Gereja yang
menyelamatkan umat manusia.
Kesimpulan
Bagi saya Kursus Misiologi begitu
mengena dalam panggilan misi pribadi saya berdasarkan pemahaman yang didapat,
dan langkah misi yang ingin diambil, yaitu untuk bergelimang dalam lumpur misi
Gereja Katolik sesuai dengan talenta pribadi saya. Refleksi ini akan saya
simpulkan dengan Panca Tugas Gereja yang akan saya lakukan dan saya ikut
sertai. Dalam tugas liturgia, saya
akan meletakkan transformasi misi dalam perenungngan saya di setiap misa,
persekutuan doa, ataupun kegiatan lain di Gereja, dan kegiatan yang membuat
saya dapat mendalami Kitab Suci. Dalam tugas kerygma, melalui karya tulis saya akan menyebarkan kabar gembira
terutama kajian transformasi masyarakat dan Gereja. Dalam koinoia, saya akan berusaha menemukan komunitas yang kurang lebih
talenta-nya sama dengan saya. Suatu hari nanti saya akan meluangkan waktu untuk
bergabung dalam kelas-kelas filsafat dan teologi, dan memperjuangkan misi
Gereja melalui pengkajian. Secara diakonia,
saya saat ini telah menjadi anggota komunitas yang secara rutin melakukan
kegiatan pelayanan. Semuanya dilakukan agar suatu saat nanti, saya dapat
memberikan kesaksian secara lebih luas dimanapun saya berada.
[1] Industrialisasi 4.0 adalah
revolusi tahap ke-4 dalam tahapan upaya manusia untuk memproduksi kebutuhan
hidupnya. Tahap pertama adalah mekanisasi produksi, tahap kedua adalah produksi
massal, tahap ketiga adalah penggunaan komputer, dan tahap ketiga adalah
penggunaan kecerdasan buatan untuk mengotomatisasi setiap kegiatan produksi, lihat https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2018/09/02/what-is-industry-4-0-heres-a-super-easy-explanation-for-anyone/#568dbca49788
[2] “Pope Francis attacks ‘tyranny’ of unfettered capitalism, ‘idolatry of
money’”, https://www.cnbc.com/2013/11/26/pope-francis-attacks-tyranny-of-unfettered-capitalism-idolatory-of-money.html
[3] Tanda-tanda zaman menurut Paus Yohanes
XXIII, Humanae Salutis, 1961, adalah
sesuatu yang dikatakan Roh Kudus mengenai apa yang harus dilakukan oleh Gereja.
dalam Chritoper Rowland, The Cambridge
Companion to Liberation Theology, 1999, Cambridge University Press, hlm.
180
[5] impulsif/im·pul·sif/ a bersifat
cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati, lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.web.id/impulsif, diakses pada 30 September 2018. Dikatakan
impulsif karena politisi bersama para pendukungnya (yang tidak lain adalah
masyarakat), semakin bertindak hanya berdasarkan pada pertimbangan jangka
pendek dan pragmatis. Tidak ada tawaran ide yang benar-benar idealis, yang
mampu bertahan di masa kini.
[6] Implosif adalah sesuatu yang
sifatnya rawan terhadap ledakan ke dalam. Kata ini mengacu pada istilah
‘implosi’ yang berarti tindakan atau aksi yang menggerakan apapun ke arah
tengah atau dalam, lihat Kamus Meriam
Webster, https://www.merriam-webster.com/dictionary/implosion. Istilah implosi digunakan untuk
menjelaskan dampak dari dominasi waktu atas ruang (Paul Virilio), atau dominasi
simulasi atas realitas (Jean Baudrillard). Sederhananya, kehidupan manusia
sebetulnya memiliki natur percepatan yang di satu titik tidak bisa dilampaui
lagi terutama dengan rekayasa-rekayasa manusia (biasanya dengan teknologi),
jika tidak, maka akan terjadi implosi atau ledakan ke dalam (lawan dari
eksplosi) seperti adanya disinformasi dan kekacauan (chaos) ataupun krisis multidimensi dan kemerosotan moral.
[7] Ad Gentes nomor 6
[8] R.F. Bhanu Viktorahadi, Pr, Menjadi Gereja yang Bergelimang Lumpur:
Telaah Singkat Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium, 2015, Penerbit
PT Kanisius
[9] Salah satu bahan paparan pada
Kursus Misiologi Pertemuan VII dengan tema Model-model Misi dalam Abad Modern,
oleh Rm. Fransiskus Sule, CICM, 5 September 2018.
[10] David J. Bosch, Transforming Mission: paradigm shifts in
theology of mission, 1991, New York: Orbis Books, hlm. 1
[11] RD Carolus Putranto, Bahasa, budaya, dan Misi
[12] Evangelii Nuntiandi nomor 3
[13] RD Wisnu Wicaksono, Pr, Spiritualitas Misioner
[14] RD Vitus Rubianto S., SX, Misi dalam Perjanjian Baru
[15] David Ray Griffin, Visi-visi postmodern: Spiritualitas &
masyarakat, 2005, Yogyakarta: Kanisius
[16] Seperti halnya dalam gerakan
Spiritualitas/Teologi Pembebasan di Amerika Latin pada 1970-an, lihat R.F. Bhanu Viktorahadi, Pr, Menjadi Gereja yang Bergelimang Lumpur:
Telaah Singkat Apostolik Paus Fransiskus Evangelii Gaudium, 2015, Penerbit
PT Kanisius, hlm. 20-21
[17] Fides et Ratio nomor 1
Komentar
Posting Komentar