Takut dan Waspada

Jumat, 12 Juli 2019

Kej 46:1-7, 28-30
Mat 10:16-23

Sharing Iman 
Komunitas Verbum Domini 4

Antonius Semmy Tyar Armandha

Dari bacaan pertama dan bacaan injil hari ini, ada dua kata kunci yang dapat mewakili yaitu “takut” dan “waspada”. Allah berbicara kepada Yakub agar tidak takut pergi ke Mesir dalam rangka menyusul Yusuf anaknya. Ketakutan ini sungguh manusiawi, karena Yakub diliputi ketakutan menjadi orang asing di Mesir (Kej 46:3). Sementara itu pada bacaan injil, Yesus memperingatkan para murid-muridnya agar berwaspada terhadap orang-orang yang akan mempersekusi mereka nanti ketika mewartakan kabar baik. Yesus sendiri pernah mengalami ketakutan pada malam sebelum Ia diserahkan untuk disalib (Mrk 13:37). Perasaan ketakutan, dengan demikian adalah alami pada diri manusia. Yang membedakan adalah kemampuan untuk waspada dari majelis agama yang bengis (Mat 10:17), pemerintah yang menindas (Mat 10: 18), dan saudara seperti musuh dalam selimut (Mat 10:21). Ketakutan berpindah dari satu kota ke kota lain dialami baik Yakub maupun para murid Yesus. Namun tidak demikian bagi Yesus, yang memerintahkan para murid-murid-Nya untuk berwaspada. Berwaspada artinya berjaga-jaga (KBBI V). Sedangkan berjaga-jaga adalah perintah Yesus kepada para murid-Nya di Taman Getsemani (Mat 26:38), dan juga kepada semua orang (Mrk 13:37).

Ketakutan sejatinya telah menjadi suatu tindakan atau perasaan yang dilakukan oleh banyak tokoh di Kitab Suci. Namun demikian, ketakutan memiliki jenis yang berbeda. Ada ketakutan yang kudus, yaitu takut akan Allah, ada juga ketakutan yang datang karena keberdosaan. Saya sering merasakan ketakutan. Saya sangat takut apabila mati nanti, saya belum cukup beriman dan melakukan perutusan Tuhan untuk menyebarkan kabar baik. Di sisi lain, saya juga takut kekurangan harta, kekurangan makanan, kekurangan kasih sayang, takut melewati masa muda dengan sia-sia tanpa bersenang-senang, takut tidak punya pasangan, takut tidak punya keturunan, takut orang terdekat meninggal. Kedua rasa takut tersebut tentu berbeda dan bertolakbelakang satu sama lain. Takut akan Tuhan berarti harus berani terhadap penderitaan, tekanan, penindasan, dan persekusi dari manusia. Saya sendiri, dalam alam pikir dan perasaan, ingin sekali menjadi aktivis yang membela kaum tertindas, meninggalkan status quo pekerjaan-pekerjaan yang tidak mendukung perubahan. Namun di sisi lain, ada ketakutan yang menghalangi saya, yang didasari oleh kemelekatan dengan apa yang justru disebutkan oleh Yesus sebagai “orang-orang yang siap mempersekusi pewartaan murid-murid-Nya”, yaitu orang-orang yang siap memanjakan saya dengan uang, harta, kedudukan, dan yang duniawi asalkan saya tidak pergi mewartakan. Justru dengan “serigala-serigala” itulah segala kemelekatan dan kenikmatan bisa didapaktan.

Bacaan hari ini mengingatkan saya untuk waspada akan kemelekatan tersebut. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pindah dari kota ke kota, dan berjanji sebelum selesai, Ia akan datang. Bagi saya yang sering ketakutan, terutama ketakutan akan masa depan yang akhir-akhir ini saya alami, bacaan hari ini sungguh membuat saya bersukacita. Selama saya dapat berwaspada dari kepungan para “serigala”, menjadi tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, tidak ada alasan lagi untuk takut karena keberdosaan, melainkan takut akan Allah.

Doa
Ya Allah, mohon rahmat agar diriku dilepaskan dari ketakutan akan hal-hal duniawi, tetapi berilah takut akan Engkau sebagai awal dari hikmat.
Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disposisi Iman

Pelita Iman dan Minyak Pengertian

Menilai Zaman, Menilai Sistem