Cinta adalah Pengosongan Diri, untuk Bersedia dengan Tulus diisi Dengan Sesama
Jumat, 16 Agustus 2019
Yos 24:1-13
Mat 19:3-12
Sharing Iman
Komunitas Verbum Domini 4
Antonius Semmy Tyar Armandha
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Mat 19:5)
Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti program Discovery di gereja bersama dengan pacar. Saya ingin menunjukkan keseriusan saya kepada pacar bahwa saya ingin mengenalnya lebih jauh dan lebih dalam. Di kegiatan tersebut, kami diminta menggali karakter dan harapan-harapan yang ada pada diri masing-masing, agar betul-betul paham satu sama lain sebelum akhirnya nanti berlanjut ke jenjang pernikahan. Dalam setiap sesinya kami diberikan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi yang nantinya akan berpengaruh pada saat pernikahan, seperti pengaturan pengeluaran dan penghasilan, tempat tinggal, seksualitas, hubungan dengan orang tua, dan lain-lain.
Dari berbagai pertanyaan tersebut, yang paling membuat saya sulit menjawab adalah hubungan dengan orang tua. Apakah kami dapat bersepakat untuk tinggal/tidak tinggal bersama dengan orang tua, dan apakah kita dapat bersepakat untuk memberikan penghidupan untuk orang tua masing-masing. Bagi saya yang hanya punya satu orang tua yaitu ibu, tentu saya ingin tinggal bersama ibu dan mencurahkan penghasilan saya salah satunya kepada ibu saya. Namun demikian, pacar saya menginginkan kita memiliki tempat tinggal sendiri dan hidup terpisah sama sekali dengan orang tua.
Saya pun menjadi sangat kuatir dan sedih, karena saya masih ingin bersama-sama dengan ibu saya dan tinggal bersamanya. Alasannya karena ibu saya sendiri. Walaupun ada adik saya, namun saya tidak tahu nanti apakah adik akan meninggalkan rumah pula. Tentu saya tidak ingin mama hidup sendirian.
Namun, ayat emas di atas membuat saya tersadar, bahwa saya harus meninggalkan orang tua untuk bersatu dengan isteri nantinya. Karena Tuhan Yesus sendiri yang mensabdakannya, maka susah atau senang, saya harus melakukannya. Sampai sekarang, saya jujur belum tahu bagaimana teknisnya hidup berumahtangga di rumah terpisah namun masih bisa menemani mama di rumah. Tapi saya percaya Tuhan akan atur semuanya jika saya mau menjalankan sabda-Nya.
Dari program Discovery yang saya ikuti tadi juga, saya memahami bahwa saya harus dapat menerima pandangan/perspektif dari pasangan nanti. Hal ini karena jika saya berkeras hati, pasangan saya juga bisa berkeras hati dan nantinya tidak akan ada hidup kerja sama yang baik, sehingga akan berpotensi terjadinya perceraian. Sedangkan perceraian tidak dikehendaki Tuhan. Dalam program ini, saya diajari untuk menyesuaikan harapan-harapan pribadi kita yang sebetulnya mungkin terbentuk dari pemahaman yang salah terhadap pasangan saya. Seringkali saya salah mengerti pasangan, sehingga harapan-harapan saya cenderung tidak dimungkinkan dipahami oleh pasangan, bahkan mungkin pasangan tidak bisa memenuhinya.
Dari program tersebut, saya sadar bahwa saya harus betul-betul memahami pasangan saya, dengan terlebih dahulu mengosongkan prasangka-prasangka dan pemahaman-pemahaman yang salah mengenai pasangan saya. Tuhan Yesus berkata "...Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti" (Mat 19:12). Pengertian adalah kunci bagi hubungan yang langgeng.
Doa
Ya Allah, terima kasih karena Engkau mengkaruniakan cinta kasih kepada saya, sehingga saya dapat mengasihi dan mencintai sesama saya termasuk pacar saya. Persiapkanlah hati saya, agar saya betul-betul mencintai dan mengasihi ia, seperti Engkau sendiri mencintai dan mengasihi saya. Semoga Roh kudus menuntun saya kepada orang yang benar-benar cocok dan direstui oleh Tuhan, sehingga tidak ada kata perceraian dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga saya nanti. Ya Yesus, bimbinglah aku agar aku dapat mengerti pasanganku dengan lebih baik setiap harinya.
Amin
Yos 24:1-13
Mat 19:3-12
Sharing Iman
Komunitas Verbum Domini 4
Antonius Semmy Tyar Armandha
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Mat 19:5)
Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti program Discovery di gereja bersama dengan pacar. Saya ingin menunjukkan keseriusan saya kepada pacar bahwa saya ingin mengenalnya lebih jauh dan lebih dalam. Di kegiatan tersebut, kami diminta menggali karakter dan harapan-harapan yang ada pada diri masing-masing, agar betul-betul paham satu sama lain sebelum akhirnya nanti berlanjut ke jenjang pernikahan. Dalam setiap sesinya kami diberikan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi yang nantinya akan berpengaruh pada saat pernikahan, seperti pengaturan pengeluaran dan penghasilan, tempat tinggal, seksualitas, hubungan dengan orang tua, dan lain-lain.
Dari berbagai pertanyaan tersebut, yang paling membuat saya sulit menjawab adalah hubungan dengan orang tua. Apakah kami dapat bersepakat untuk tinggal/tidak tinggal bersama dengan orang tua, dan apakah kita dapat bersepakat untuk memberikan penghidupan untuk orang tua masing-masing. Bagi saya yang hanya punya satu orang tua yaitu ibu, tentu saya ingin tinggal bersama ibu dan mencurahkan penghasilan saya salah satunya kepada ibu saya. Namun demikian, pacar saya menginginkan kita memiliki tempat tinggal sendiri dan hidup terpisah sama sekali dengan orang tua.
Saya pun menjadi sangat kuatir dan sedih, karena saya masih ingin bersama-sama dengan ibu saya dan tinggal bersamanya. Alasannya karena ibu saya sendiri. Walaupun ada adik saya, namun saya tidak tahu nanti apakah adik akan meninggalkan rumah pula. Tentu saya tidak ingin mama hidup sendirian.
Namun, ayat emas di atas membuat saya tersadar, bahwa saya harus meninggalkan orang tua untuk bersatu dengan isteri nantinya. Karena Tuhan Yesus sendiri yang mensabdakannya, maka susah atau senang, saya harus melakukannya. Sampai sekarang, saya jujur belum tahu bagaimana teknisnya hidup berumahtangga di rumah terpisah namun masih bisa menemani mama di rumah. Tapi saya percaya Tuhan akan atur semuanya jika saya mau menjalankan sabda-Nya.
Dari program Discovery yang saya ikuti tadi juga, saya memahami bahwa saya harus dapat menerima pandangan/perspektif dari pasangan nanti. Hal ini karena jika saya berkeras hati, pasangan saya juga bisa berkeras hati dan nantinya tidak akan ada hidup kerja sama yang baik, sehingga akan berpotensi terjadinya perceraian. Sedangkan perceraian tidak dikehendaki Tuhan. Dalam program ini, saya diajari untuk menyesuaikan harapan-harapan pribadi kita yang sebetulnya mungkin terbentuk dari pemahaman yang salah terhadap pasangan saya. Seringkali saya salah mengerti pasangan, sehingga harapan-harapan saya cenderung tidak dimungkinkan dipahami oleh pasangan, bahkan mungkin pasangan tidak bisa memenuhinya.
Dari program tersebut, saya sadar bahwa saya harus betul-betul memahami pasangan saya, dengan terlebih dahulu mengosongkan prasangka-prasangka dan pemahaman-pemahaman yang salah mengenai pasangan saya. Tuhan Yesus berkata "...Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti" (Mat 19:12). Pengertian adalah kunci bagi hubungan yang langgeng.
Doa
Ya Allah, terima kasih karena Engkau mengkaruniakan cinta kasih kepada saya, sehingga saya dapat mengasihi dan mencintai sesama saya termasuk pacar saya. Persiapkanlah hati saya, agar saya betul-betul mencintai dan mengasihi ia, seperti Engkau sendiri mencintai dan mengasihi saya. Semoga Roh kudus menuntun saya kepada orang yang benar-benar cocok dan direstui oleh Tuhan, sehingga tidak ada kata perceraian dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga saya nanti. Ya Yesus, bimbinglah aku agar aku dapat mengerti pasanganku dengan lebih baik setiap harinya.
Amin
Komentar
Posting Komentar