Jiwa yang Penuh, Sulit Menerima; Apalagi Menjadi Baru
Jumat, 2 Agustus 2019
Im 23:1.4-11.15-16.34b-37
Mat 13:54-58
Sharing Iman
Komunitas Verbum Domini 4
Antonius Semmy Tyar Armandha
Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat
diadakan-Nya di situ. (Mat 13:58)
Bacaan
Injil hari ini menceritakan penolakkan warga di tempat asal Yesus, terhadap
ajaran-ajaran terlebih pada sosok dan keberadaan-Nya. Pada awalnya mereka
takjub, namun kemudian mempertanyakan hikmat yang dimiliki-Nya berdasarkan
latar belakang Yesus di kampung halaman-Nya tersebut. Dari bacaan ini, saya
sangat tercelik dari sikap orang-orang yang menolak Yesus. Ada semacam
prakonsepsi dan prasangka/praduga yang membebani pikiran orang-orang itu yang
begitu tahu seluk-beluk keluarga Yesus, sehingga gagal memahami anugerah Allah
lewat keberadaan Yesus. Mereka gagal melihat anugerah, karena terhalang
“kabut-kabut” pengetahuan akan Yesus yang kemudian menjadi prasangka. Prasangka-prasangka
itulah yang melekat kuat dalam diri orang-orang yang seharusnya menyambut
dengan gembira sang “Putra Daerah” tersebut, sehingga tidak mampu merespon
secara positif kebaruan dari pengajaran Yesus.
Seringkali,
sebagai seorang yang sudah merengkuh pendidikan tinggi, saya memandang sesuatu
secara kritis dan menggunakan pendekatan-pendekatan yang telah saya pelajari.
Hal tersebut menurut saya dibutuhkan, namun demikian justru menjadi beban
ketika harus melihat sesuatu yang baru terjadi dalam hidup saya. Seperti ketika
saya mulai terlibat aktif dalam pelayanan. Saya berpikir bahwa pelayanan
haruslah murni menjadi satu bentuk pembuktian bahwa saya beriman dan mencintai
Yesus, dan oleh karenanya tidak ada satu motivasi-pun di luar itu yang boleh
saya gunakan termasuk untuk rileks dari pekerjaan. Bagi saya, motivasi
pelayanan untuk rileks dari pekerjaan adalah sesuatu yang banal, yang membuat
pelayanan jatuh martabatnya menjadi sekedar pelampiasan kelelahan dan beban
hidup kita.
Pemikiran
ini masih menjadi jangkar bagi saya dalam melakukan pelayanan, namun melalui
suatu diskusi bersama teman, saya diberikan masukan bahwa relaksasi dari
kehidupan sehari-hari tidak membanalkan makna pelayanan. Justru retret-retret yang diadakan oleh
Gereja dan komunitas, adalah sarana untuk umat untuk beristirahat sejenak dan
merenungkan kembali makna hidup rohani di tengah-tengah hidup yang fana. Tidak
semua orang bisa melayani full time, di sisi lain tidak semua orang juga bisa
langsung memahami keberserahan penuh dalam pelayanan. Lewat diskusi ini, saya
seperti diminta Tuhan untuk membuka pikiran dan hati, bahwa tidak semua orang
punya kondisi yang sama dengan saya. Bahwa tugas Gereja adalah merangkul semua
orang dengan segala kondisi. Bahkan Yesus datang untuk orang-orang yang sibuk
dan “sakit”, bukan untuk orang-orang yang “sehat” secara rohani.
Lewat
bacaan hari ini juga saya mendapatkan makna, bahwa seringkali potensi-potensi
yang ada dalam diri saya; yaitu yang betul-betul menjadi talenta saya tidak
saya sadari bahkan saya tolak. Gambaran Yesus yang ditolak di tempat asal-Nya,
bagi saya seperti diri saya sendiri yang penuh prasangka terhadap
talenta-talenta yang diberikan kepada saya. Kegagalan saya dalam melihat
talenta-talenta tersebut, karena ditutup oleh “kabut-kabut” kemalasan dan
ketidaksiplinan, serta pengulur-uluran waktu yang seringkali sengaja saya
lakukan. Beberapa niat saya untuk meningkatkan doa dan permenungan, juga
terhalang karena penundaan-penundaan yang sebenarnya bersifat remeh-temeh. Rasa
takut akan kehilangan kenyamanan, menjadi “kabut-kabut” yang menghalangi
kebaruan yang ingin datang dalam hidup saya, persis ketika orang-orang menolak
Yesus di kampung halaman-Nya. Saya merasa, banyak mujizat yang harusnya terjadi
dalam hidup saya tidak terjadi, karena tidak menerima hikmat yang datang dari
Yesus sendiri.
Doa
Ya
Yesus, datanglah senantiasa dalam hidup-Ku dan baharuilah hatiku dengan
sabda-sabda-Mu baik yang ditulis dalam Kitab Suci maupun yang datang langsung
dari-Mu. Jadikanlah diriku kampung halaman-Mu, dan kali ini, kerjakanlah banyak
mujizat karena hatiku tidak akan menolak.
Komentar
Posting Komentar